Pohon Pandan Tetangga

22 May

Pohon Pandan Tetangga

By 
(0 votes)

Tetangga sebelah rumah adalah tetangga yang amat populer di kampung saya. Nama aslinya Totok, tapi kemudian ada tambahan Pandan di belakangnya, dan jadilah Totok Pandan sebagai nama bekennya.

Tampaknya ia sangat menikmati tambahan nama baru itu. Bukan cuma karena terdengar keren, tapi juga karena nama itu begitu sering disebut. Jika orang kampung menyebut nama Totok, orang lain segera akan bertanya Totok yang mana. Jika telah disebut Totok Pandan sebagai jawaban, maka bereslah persoalannya.

Jika ada orang tersesat dan bertanya, si penjawab akan menyebut rumah Totok Pandan sebagai land mark, sebagai ancar-ancar pertamanya. Jika orang itu baru pertama mendengar nama ini, si penjawab akan menuding jauh dengan telunjuk jarinya sambil menyebut, itu lhooo yang ada pohon pandan di depan rumahnya ituuu!

Tepat! Pak Totok ini menjadi terkenal bukan karena ia seorang tokoh yang namanya selalu dimuat di koran dan wajahnya selalu muncul di televisi. Ia orang biasa saja. Ia terkenal lebih karena pohon pandan di depan rumahnya itu. Pandan sebetulnya juga bukan tanaman langka. Ia nyaris bisa ada di mana-mana, gampang pula menanamnya.

Jika seseorang menanak nasi butuh semerbak baunya, nasi itu butuh dicampuri daun pandan. Jika hendak membuat kolak pisang bersantan dan butuh lebih semerbak, kolak ini membutuhkan pandan sebagai penyedapnya. Pendek kata, pandan adalah pohon murahan, gampangan tapi besar manfaatnya. Sesempit apapun tanah yang ada, orang tetap bisa menanamnya karena tanaman ini tak rakus lahan.

Tapi yang aneh, di seantero kampung kenapa hanya tetangga saya ini yang menanamnya. Itulah kenapa namanya jadi populer. Karena jika tetangga hendak menanak nasi, perlu menyempatkan diri menyambangi rumah Pak Totok dan memetik daun pandannya. Tiap hari hampir selalu saja ada yang memetik daun-daunnya. Mereka bisa tetangga dekat, bisa tetangga dari lain desa yang kebetulan lewat di depan rumahnya.

Jika yang empunya rumah tak ada, si pemetik biasa berteriak keras tanpa perlu jawaban; ''Pak Totoook minta pandaaan,'' dan sudah merasa sah permintaannya. Lama-lama teriakan semacam itu menjadi begitu sering terdengar, dan menjadi pass word bagi para pemetik jika yang empunya rumah tak ada. Dan lama-lama pass word itu juga begitu populernya, sehingga banyak orang telah merasakan daun pandan Pak Totok, sudah menyebut nama Totok Pandan, tanpa harus selalu mengenal orangnya.

Begitu populernya nama Totok Pandan itu sehingga yang empunya nama sendiri heran. ''Ternyata tidak perlu jadi pemain sinetron untuk terkenal. Tapi cukup hanya dengan menanam pohon pandan,'' katanya. Seterusnya mulut selebriti kampung ini nyerocos dengan lancarnya, bahwa menanam betul sih ia tidak, karena tanaman itu tak lebih adalah tinggalan almarhumah mertuanya. Jadi ia merasa memiliki kebaikan tak sengaja.

Tapi betapa sesuatu yang tak disengaja pun, jika ia adalah barang berguna, begitu dahsyat efek baliknya. ''Apalagi jika kita membuat kesengajaan terus-menerus,'' pikirnya.

Walau kebaikan itu cuma sederhana, cuma berupa daun-daun pandan, kenapa keharumannya bisa menular ke nama pemiliknya. ''Apalagi jika kebaikan ini tidak cuma berupa daun pandan. Tapi juga berupa ribuan kebaikan lain yang kita punya tapi tak pernah kita pakai ini,'' katanya lebih jauh.

Padahal ia mendapatkan bukti baru tentang kebaikan ini, pohon pandannya itu, meskipun tiap hari dipetik dan dikurangi, ia menjadi pohon yang amat sehat. Jadi ada rumus kesehatan yang syarat kedatangannya justru lewat mengurangi dan mengedarkan sesuatu yang berlebihan yang ada di dalam diri sendiri ini.

 

Oleh: Prie GS

Read 2103 times Last modified on Wednesday, 29 May 2013 13:58

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.