Pengalaman di Akhir Ramadhan

09 May

Pengalaman di Akhir Ramadhan

By 
(0 votes)

Assalamualaikum wr.wb.

Para anggota milis yang budiman, sebelumnya perkenankan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Khairun Zenas atau biasa disapa Jenas. Usia saya sekarang 26 tahun. Saya berdomisili di depok, suatu daerah di mana anda akan mudah menemukan gambar sang walikota di mana-mana. Saat ini saya dan kakak perempuan saya sedang menjajaki untuk meninggalkan pekerjaan formal dan berbisnis coklat serta kue-kue kering. Semoga tidak menemukan hambatan yang berarti. Doakan saja ya.

Saya ingin berbagi pengalaman mengenai transformasi diri saya dari seorang yang sangat enggan beribadah menjadi seorang yang cukup religius. Keadaan saya sebelum hidayah itu datang sangatlah menyedihkan. Tak pernah saya menganggap bahwa suara adzan yang saya dengar adalah suatu panggilan Allah bahkan kadang saya suka menggerutu apabila mendengar suara Adzan berkumandang. "Berisik!" kata saya ketika itu. Begitu pun sikap saya terhadap ibadah-ibadah yang lain, alih-alih menambah dengan yang sunnah yang wajib pun saya campakkan. Bahkan di bulan Ramadhan yang begitu dirindukan orang-orang shaleh, tak saya pedulikan. Intinya hidup saya jauh dari nilai-nilai keislaman. Walau begitu masih ada sisi positif dari saya. Saya menjaga kesehatan, sangat jauh dari rokok terlebih-lebih narkoba selain itu saya juga senang berolahraga  seperti berenang dan jogging.

Kembali ke pengalaman saya, walau diri ini berusaha menciptakan jarak selebar-lebarnya dengan Allah tapi Allah yang begitu penyayangnya membalasnya dengan hidayah. Uniknya hidayah itu datang bukan pada saat sebelum Ramadhan yang logikanya jika kita telah bertobat maka akan melaksanakan ibadah sebaik-baiknya di bulan mulia itu. Hidayah itu datang justru pada hari terakhir bulan Ramadhan. Saat itu saya sedang membaca di TB Gramedia Depok, dan mata saya menangkap sebuah buku yang membahas tentang EFT (Emotional Freedom Technique) yang mengklaim bias membantu seseorang untuk berubah. Saya ambil sebuah buku yang tidak disegel lalu saya baca tentu saja dengan sikap skeptis. Bla...bla...bla intinya buku itu mengajarkan sebuah cara yaitu dengan mengetuk-ngetuk titik tertentu pada anggota tubuh kita sehingga aliran listrik yang terganggu sehingga menyebabkan munculnya emosi negative dapat kita atasi. Saat itu saya tersenyum sinis dan menantang buku itu.  "Kalau teknik ini bisa membuat saya rajin beribadah baru saya akui kebenaran buku ini," pikir saya saat itu. Saya pun berlalu tanpa mempedulikan isi buku itu lagi.

Sesampainya di rumah saat saya bercermin entah mengapa isi buku yang saya baca terbayang lagi. Saya dengan bergurau mengetuk-ngetuk titik-titik pada tubuh seperti yang diajarkan dalam buku itu. Pelan-pelan muncul perasaan nyaman pada diri saya. Lalu saya mulai mencoba lebih serius mengikuti prosedur yang dipaparkan dalam buku itu (saya tidak menyebutkan judul buku, karena saya lupa judul dan pengarangnya). Bersamaan dengan itu tiba-tiba terdengarlah kumandang Adzan Ashar. Sekonyong-konyong dada saya menjadi sesak ingin menangis sejadi-jadinya, terbayang 29 hari sebelumnya yang luar biasa dan penuh makna namun saya sia-siakan begitu saja. Perasaan saya semakin pedih saat melihat sarung dan sajadah yang teronggok begitu saja di samping laptop, dumbell, dan gitar. Padahal telah begitu keras perjuanganm untuk menegakkan Islam, telah malu Rasulullah di hadapan Allah hanya agar umat Islam bisa menjalankan shalat dengan mudah.

Pada detik-detik krusial itu, sambil melakukan EFT saya pun mulai menyetting niat saya agar saya rajin menjalankan ibadah. Sejak itu sampai beberapa minggu ke depan saya mulai mengamati perubahan saya, apakah konsisten atau hanya sekedar "warm warm chicken shit" (anget-anget tai ayam), itulah sebabnya baru sekarang saya berani memposting e-mail ini. Dan Alhamdulillah konsisten, lancar, dan terkendali.

Ada pengalaman lucu sekaligus memiriskan, saya sempat disangka muallaf karena tiba-tiba jadi sering ke mesjid namun itu juga menyiratkan bahwa sebagian mesjid sepi peminat sehingga kemunculan satu orang saja bisa sangat mencolok dan menarik perhatian. Ada satu lagi, sepulang saya Shalat Subuh berjamaah saya bertemu tetangga saya yang sedang melakukan senam ringan. Tiba-tiba tetangga saya itu nyeletuk "Aduh masih muda kok udah gitu?" Saya yang pada dasarnya temperamen spontan membalas "Aduh kok udah tua masih gitu?" (Yang ini jangan ditiru ya).

Saya sempat bertanya-tanya kenapa Allah menghadirkan hidayahnya pada saat Ramadhan telah hampir habis sampai saya malu sendiri telah bertanya seperti itu. Saya menyadari karakter saya yang sulit berubah secara langsung. Bayangkan jika hidayah itu datang pada saat sebelum Ramadhan dan saya langsung berhadapan dengan hari-hari yang demikian "berat" bisa-bisa saya malah kewalahan dan kembali jauh dari hidayah. Demikianlah pengalaman saya semoga bisa ditarik pelajaran darinya. Amin.

 Wassalam

 

Sumber dari sebuah milis

 

Read 1987 times Last modified on Saturday, 01 June 2013 01:38

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.