Adil Versi Pencopet

20 May

Adil Versi Pencopet

By 
(1 Vote)

Pada suatu sore di tahun 2003 penulis sedang menunaikan sholat ashar di sebuah masjid di pojok terminal depok. Waktu itu jarum jam menunjukan tepat pukul 5.00. Selesai menunaikan sholat penulis keluar ruangan masjid untuk mengambil sepatu yang dititipkan kepada penjaga masjid.

Tiba-tiba terjadi keributan di halaman masjid, karena penasaran penulis mencoba mendekat untuk mengetahui penyebab keributan tersebut. Ternyata telah terjadi perkelahian yang tidak seimbang, karena seorang pria walaupun berbadan tegap dikeroyok oleh 5 orang pria lain. Ketika penulis bermaksud melerai perkelahian tersebut, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari seseorang di belakang saya "Berhenti !" teriak orang tersebut. Seketika itu kelompok yang sedang berkelahi tersebut berhenti dan semua berpaling kearah suara, termasuk penulis pun ikut menoleh.

“Kenapa kalian berkelahi ?” teriak orang yang dibelakang saya,

"Si Jhony gak adil pak ustadz" kata salah seorang pengeroyok. Oh, rupanya orang yang berteriak menyuruh berhenti berkelahi tadi seorang ustadz yang mengurus Masjid dan anak-anak jalanan yang ada di sekitar terminal depok yang belakangan diketahui namanya Abdul Rohim.

Selanjutnya Ustadz Rohim mengajak ke enam pria yang terlibat perkelahian tadi ke teras masjid untuk di damaikan. Yang membuat penulis kagum pada ustadz Rohim, walaupun postur tubuhnya relatif kecil, tapi dia punya nyali yang besar. Terbukti dari ke enam pria yang tampangnya galak dan bengis nurut dan patuh ketika disuruh duduk di teras masjid untuk di damaikan. Ustadz Rohim mencoba mencari sebab kenapa kelima teman si Jhony mengeroyoknya, Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, barulah si Ustadz tahu bahwa ke enam orang ini adalah gerombolan pencopet yang sedang membagi hasil jarahannya. Si Jhony di percaya untuk menghimpun uang hasil mencopet di kereta untuk kemudian di bagi rata kepada seluruh anggota kelompok. Dan ternyata dalam praktek pembagian tersebut, teman-teman si Jhony merasa diperlakukan tidak adil, Mereka menuduh si Jhony menyembunyikan sebagian hasil mencopet untuk dirinya sendiri. Merasa didzolimi, kelima pencopet sepakat untuk mengeroyok si Jhony sampai dia mengakui kesalahannya.

Singkat cerita, Ustadz Rohim mencoba memberi nasihat dengan lemah lembut kepada si Jhony untuk berlaku jujur dan adil, karena siapapun pasti tidak ingin diperlakukan tidak adil, termasuk teman-temanmu. Kamu akan kehilangan kepercayaan dari teman-temanmu ketika berkhianat, bahkan bukan cuma kehilangan kepercayaan tapi juga bisa mencelakakan diri sendiri. Saat itu ke enam pencopet tertegun tak ada suara yang keluar dari mulut mereka, sampai beberapa menit kemudian salah seorang dari mereka mengangkat kepala dan berkata; "Kalau begitu kami angkat pak Ustadz untuk menjadi juru bagi, karena kami butuh orang yang jujur dan adil dalam membagi hasil jarahan kami". Lalu usul tersebut diamini oleh teman-temannya yang lain termasuk si Jhony.

Ustadz Rohim dengan bijak menjawab,

"Untuk kali ini saja saya mau menjadi juru bagi, supaya kalian tidak berkelahi. Untuk selanjutnya silahkan kalian merenung dan bertanya kepada diri masing-masing, Bagaimana rasanya di perlakukan tidak adil ? Bagaimana rasanya di dzolimi? Bagaimana rasanya ketika hak kalian dirampas? Setelah kalian mendapatkan jawabannya, pastikan bahwa yang dirasakan oleh orang yang kalian rampas haknyapun sama dengan apa yang kalian rasakan.”

Setelah ustadz Rohim membagikan uang hasil jarahan dengan adil para pencopetpun meninggalkan Ustadz Rohim seiring dengan berkumandangnya adzan maghrib.

Satu bulan yang lalu penulis mampir kembali di Masjid terminal Depok, secara kebetulan bertemu lagi dengan Ustadz Rohim, disela-sela kesibukannya mengurus pendidikan anak jalanan di areal terminal depok, penulis sempat berbicang-bincang dengan beliau sampai kepada cerita tentang para pencopet yang dulu pernah berkelahi di halaman masjid. Ternyata menurut cerita beliau tiga dari enam pencopet tersebut sudah beralih profesi, satu orang jadi pengumpul barang bekas dan yang dua jadi pedagang asongan di terminal. Bahkan ketiganya rajin shalat berjamaah di masjid ini, mereka juga mulai aktif belajar agama. Dari kisah tersebut di atas, menunjukkan bahwa keadilan itu menjadi hak setiap orang siapapun dia. Pencopet saja tidak sudi di perlakukan tidak adil dan dicurangi. Pencopet saja menyadari bahwa orang lain yang dirampas haknya akan sama rasanya ketika sesuatu yang menjadi haknya dirampas orang lain. Dia beralih profesi agar terhindar dari tindakan mendzolimi orang lain.

Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita berlaku adil? Sudahkah kita menunaikan hak-hak orang lain? Sudahkah kita menyadari kekeliruan kita, lalu melakukan perubahan? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

 

oleh Ridwan Fadil

 

 

 

Read 1941 times Last modified on Monday, 17 June 2013 21:52

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.