Mandi (Bagian II)

26 May

Mandi (Bagian II)

By 
(0 votes)

Mandi Yang Disunnahkan

Maksud mandi sunnah ini adalah mandi yang apabila orang melakukannya mendapat pahala dan apabila tidak dilakukan tidak mendapat siksa atau cela. Terdapat 6 mandi sunnah yang akan dijelaskan disini ;

  1. 1. Mandi Jumat

    Abu Said ra. bercerita bahwa Rasulullah Saw bersabda,

    “Mandi pada Hari Jumat adalah wajib bagi orang yang mimpi basah. Begitu juga dengan siwak. Dan (dianjurkan juga) untuk memakai wewangian jika ia mampu.” (HR Bukhari)

    Abu Hurairah ra. juga berceritera bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang berwudhu, terus ia menyempurnakan wudhunya, kemudian pergi melaksanakan sholat Jumat, mendengarkan (khotbah) dan bersikap tenang, maka dosanya antara Jumat dan Jumat berikutnya, diampuni, ditsmbah lagi dengan 3 hari tambahan.” (HR Muslim)

    2. Mandi Pada Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha

    Para ulama bersepakat bahwa mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah, meskipun tidak ada satu pun hadist sahih yang menjelaskan hal tersebut.

    3. Mandi setelah memandikan mayat

    Menurut sebagian besar ulama, orang yang memandikan mayat disunnahkan untuk mandi. Abu Hurairah ra. berceritera bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menandikan mayat hendaklah ia mandi. Dan barang siapa yang membawa jenazah, maka berwudhulah (HR. Abu Dawud)

    4. Mandi ketika mengenakan baju ihram

    Menurut sebagian besar ulama, orang yang akan melaksanakan ihram, baik pada saat ibadah haji maupun umrah, disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu. Zaid Bin Tsabit berceritera bahwa Rasulullah Saw pernah pergi meninggalkan keluarga beliau dan mandi. (HR Tirmidzi)

    5. Mandi Ketika masuk kota Mekkah

    Disunnahkan untuk orang yang akan memasuki kota mekkah untuk terlebih dahulu mandi. Diceriterakan bahwa Ibnu Umar ra. setiap kali akan memasuki kota Mekkah selalu menginap di Dzi Thuwa, lalu esok harinya, di siang hari baru ia memasuki kota Mekkah. Ia berkata bahwa hal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. (HR Bukhari)

    6. Mandi Ketika wuquf di Arafah

    Orang yang akan melaksanakan wuquf di Arafah disunnahkan untuk mandi (terlebih dahulu). Malik bercerita bahwa Abdullah bin Umar ra. mandi terlebih dahulu saat akan melaksanakan ihram, ketika akan memasuki kota Mekkah dan pada saat wukuf di Arafah. (diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa)

Rukun-Rukun Mandi

Mandi sesuai dengan aturan syariat minimal harus memenuhi 2 hal sebagai berikut ;

  1. 1. Niat

    2. Membasuh semua anggota badan

    Allah Swt berfirman, “Jika kamu junub, maka mandilah” (QS Al Ma’idah [5]:6)

    Dan mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

    (QS:Al Baqarah [2]:222)

    Yang dimaksud suci di dalam ayat diatas adalah mandi. Ayat berikut ini merupakan dalil atas hal itu.

    “Wahai orang yang beriman, janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja.” (QS:An-Nisa [4]:43).

    Hakekat dari mandi adalah membasahi seluruh tubuh.

Sunnah-sunnah Mandi

Orang yang akan mandi hendaknya meneladani Rasulullah Saw saat beliau mandi. Dengan cara sebagai berikut ;

  1. 1. Memulai dengan membasuh tangan sebanyak 3 kali

    2. Membasuh kemaluan

    3. Berwudhu dengan sempurna, seperti wudhu yang dilakukan pada saat pelaksanaan sholat, tetapi ia bisa menunda membasuh kakinya hingga ia mandi jika ia mandi memakai bak mandi.

    4. Mengguyur kepala dengan air 3 kali sambil membilas rambutnya sehingga air meresap ke dalam kulit kepala.

    5. Membasahi seluruh badan dengan bagian kanan terlebih dahulu dilanjutkan dengan membersihkan ketiak, rongga-rongga dalam telinga, lubang pusar, jari-jari dan mengosok seluruh badan yang bisa digosok.

    Tata cara diatas berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. bahwa Rasulullah Saw setiap kali mandi junub selalu memulai dengan membasuh kedua tangan, lalu membasuh kemaluan, kemudian berwudhu seperti wudhu saat akan melakukan sholat, lalu mengguyur kepala dengan air dan membilas rambut beliau. Ketika beliau sudah yakin air itu meresap ke dalam kulit kepala, beliau membilasnya 3 kali. Dan akhirnya beliau membasuh seluruh tubuh. (HR Bukhari).

Cara-cara Mandi Perempuan

  1. Tata cara mandi bagi perempuan sama dengan laki-laki. Perempuan tidak perlu membuka kepang rambutnya, jika ia yakin air bisa meresap ke dalam kulit kepalanya. Ummu Salamah ra. bercerita bahwa ada seorang wanita datang dan bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, aku adalah perempuan yang memiliki rambut penuh dengan kepang (gimbal) Apakah saya harus melepaskannya saat mandi junub?”

    Rasulullah Saw menjawab, “Cukup bagimu membasuhnya dengan air sebanyak 3 kali, lalu siramlah seluruh tubuhmu. Dengan begitu kamu sudah bersuci.” (HR Muslim)

    Perempuan yang mandi setelah masa haid dan nifas berakhir, disunnahkan untuk mengambil kapas yang telah diberi wewangian, semisal minyak kesturi, lalu membersihkan tempat sisa-sisa aliran darah hingga bersih dan aroma yang tidak enak menghilang.

    Aisyah ra. bercerita bahwa Asma pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang mandi setelah berakhir masa haid. Rasulullah Saw bersabda,

    “Ambilah air dan daun bidara, lalu bersucilah dan sempurnakanlah cara bersucinya yaitu siramilah kepalanya dengan air dan bilaslah dengan kuat, hingga air itu terserap di kulit kepala, siramilah lagi dengan air. Lalu ambilah kapas yang sudah diberi wewangian dan bersucilah dengannya.”

    Kata Asma, “Bagaimana caranya?”

    Jawab Rasulullah, “Mahasuci Allah! Ya dia bersuci dengan kapas itu.”

    Aisyah berkata seakan ia berbisik kepadanya. “Bersihkan tempat sisa darah.” Lalu Asma bertanya tentang mandi junub. Jawab Nabi,

    “Ambilah air, lalu bersucilah dan sempurnakanlah cara bersucinya lalu siramilah kepalanya bilas hingga air meresap ke dalam kulit kepalanya, lalu basuhlah seluruh tubuh dengan air.” (HR. Bukhari).

    Aisyah ra, berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak malu untuk bertanya persoalan agama.”

Hal-hal yang berkaitan dengan Mandi

Berikut ini merupakan beberapa persoalan yang terkait dengan mandi.

  1. 1. Seorang bisa melakukan satu kali mandi untuk dua hal, misal mandi untuk junub dan haid, mandi untuk pergi sholat Jumat atau hari raya.

    2. Jika ada orang yang sudah mandi karena junub, tetapi ia tidak melakukan wudhu, boleh baginya tidak berwudhu. Mandi yang ia lakukan sudah mewakili.

    3. Orang yang junub atau haid boleh mencukur rambut, memotong kuku, pergi ke pasar dan hal lainnya. Tidak ada larangan melakukan semua itu.

    4. Boleh mandi bersama di dalam satu tempat mandi jika masing-masing tidak saling melihat aurat yang lain dan orang di luar tidak melihat aurat mereka.

    5. Mengeringkan anggota tubuh dengan handuk atau sapu tangan pada saat mandi atau berwudhu tidak dilarang, baik pada musim dingin maupun musim panas.

    6. Seorang lelaki (suami) boleh mandi memakai sisa air yang digunakan oleh perempuan (istri) atau sebaliknya. Boleh juga mandi bersama dalam satu tempat.

    7. Dilarang mandi telanjang di keramaian.

 

Sumber diambil dari Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq

 

Read 1717 times Last modified on Friday, 06 February 2015 03:11

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.