Mandi (Bagian I)

19 May

Mandi (Bagian I)

By 
(0 votes)

Mandi adalah aktivitas membasahi seluruh tubuh dengan air. Di dalam islam, mandi adalah salah satu bagian dari syariat, berdasarkan firman Allah SWT.

“….Jika kamu junub, maka mandilah…(QS:Al Maidah [5]:6)

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

(QS:Al Baqarah [2]:222)

Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi

A. Keluarnya mani karena syahwat, baik dalam keadaan tidur maupun terbangun, laki-laki atau perempuan. Dasarnya ;

  1. Hadis yang diriwayatkan Muslim yaitu sbb, “Mandi (wajib) dilakukan karena mani.”

    Hadis yang diriwayatkan Bukhari yaitu sbb, Ummu Salamah r.a. bercerita bahwa Ummu Sulaim berkata “Wahai Rasulullah Saw, sungguh Allah tidak malu (membicarakan) masalah kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika ia mimpi basah?” Jawab Rasulullah Saw. “ Ya jika ia mengeluarkan mani.”

    Beberapa hal yang sering terjadi terkait keluarnya mani ini adalah :

    Jika mani keluar tidak karena rangsangan syahwat, tetapi karena sakit atau karena cuaca yang dingin, maka hal itu tidak mewajibkan mandi besar.

    Jika seseorang mimpi basah tapi tidak ada cairan yang keluar, maka ia tidak wajib mandi.

    Jika seseorang terbangun dari tidur dan menemukan cairan keluar tapi dia tidak ingat apakah dia mimpi basah atau tidak maka, pertama, jika ia yakin bahwa itu mani maka ia wajib mandi, kedua jika ia ragu apakah itu mania atau bukan, maka sebaiknya ia mandi.

    Jika seseorang merasakan getaran syahwat dan aliran air mani yang akan keluar, tapi ia kemudian menahannya hingga mani itu tidak keluar, maka ia tidak wajib mandi.

    Jika seseorang menemukan cairan mani dipakaian yang ia pakai, tetapi tidak tahu dari mana asalnya, padahal dia sudah melaksanakan sholat, maka ia wajib mengulang semua sholatnya, mulai dari tidur terakhir.

B. Senggama, yaitu masuknya alat vital laki-laki ke dalam alat vital perempuan, meskipun itu tidak sampai orgasme.

  1. Dasar : Firman Allah : “Jika kamu junub, maka mandilah” (QS:Al-Maidah [5]:6)

    Abu Hurairah ra. Berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jika seorang lelaki sudah berada di pangkuan wanita, lalu ia menyetubuhinya, maka mandi wajib dilakukan, baik orgasme maupun tidak.” (HR Bukhari)

C. Ketika masa nifas atau haid berakhir.

  1. Firman Allah Swt. “…dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS:Al Baqarah[2]:222)

    Rasulullah pernah berkata kepada Aisyah binti Abu Hubaisi ra. “Tinggalkanlah sholat di hari-hari selama kamu haid, lalu mandilah dan lakukanlah sholat.” (HR Bukhari)

D. Kematian

  1. Jika seorang muslim meninggal, maka wajib ia dimandikan.

E. Seorang Kafir masuk Islam (Mualaf).

  1. Dari Abu Hurairah ra. bercerita bahwa Tsumanah Al Hanafi menjadi tawanan perang. Rasulullah Saw mendatanginya dan berkata, “Apa yang engkau miliki wahai Tsumanah?” Tsumanah berkata,”Jika engkau membunuh(ku), maka sesungguhnya engkau membunuh seorang seorang dzimmi; dan jika engkau berbelas kasihan (kepadaku), maka sesungguhnya engkau memberikan kasih kepada orang yang pandai bersyukur; dan jika engkau menginginkan harta, maka aku akan memberikan apa yang engkau mau.” Pada saat itu para sahabat Nabi Saw lebih menginginkan harta tebusan. Mereka berkata, “Apa yang kita peroleh dengan membunuh orang ini?” Lalu Rasulullah Saw meninggalkan Tsumanah. Tidak lama kemudian Tsumanah masuk Islam, kemudian dibebaskan dan diperintahkan pergi ke taman Abu Thalhah untuk mandi. Tsumanah mandi dan melaksanakan sholat dua rakaat. Nabi Saw berkata, “ Sungguh baik keislaman saudara kalian ini.”

Hal-Hal Yang Haram dilakukan oleh orang yang junub.

A. Sholat

B. Thawaf di Baitullah (baik sholat maupun thawaf, terkait dengan hal-hal yang mewajibkan berwudhu)

C. Menyentuh atau membawa mushaf Al Quran

  1. Larangan untuk menyentuh dan membawa mushaf ini disepakati para ulama, tidak ada satupun sahabat yang memiliki pendapat berbeda. Namun demikian, Dawud dan Ibn Hazm membolehkan orang junub menyentuh atau membawa mushaf atas dasar sebuah hadis shahih yang mengisahkan Rasulullah Saw mengirim surat kepada Heraclius yang didalamnya terdapat tulisan basmalah dan ayat Al Quran yaitu Surat Ali Imran ayat 64. Ibnu Hazm berkata, “Lihatlah, Rasulullah Saw mengirim surat kepada orang nasrani yang mengandung ayat Al Quran, dan beliau pasti yakin bahwa mereka akan memegang surat tersebut.” Pendapat tersebut dibantah oleh mayoritas ulama dengan argument bahwa apa yang dikirim oleh Rasulullah hanyalah sebuah surat yang mengandung ayat Al Qur’an dan bukan mushaf. Surat semacam itu tidak ada bedanya dengan surat-surat lain, buku-buku tafsir, kitab fiqh dan lainnya. Tidak ada larangan untuk menyentuhnya.

D. Membaca Al Qur’an

  1. Terdapat beberapa pendapat mengenai hal ini, jumhur ulama melarang orang yang junub membaca apapun dari Al Qur’an. Ali bin Abu Thalib ra. Bercerita bahwa Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan Al Qur’an kecuali pada saat junub. Al Hafizh berkata bahwa sebagian ulama hadist berkata bahwa perawi hadist ini dhaif. Bukhari, Thabrani, Dawud dan Ibnu Hazm memperbolehkan orang yang junub untuk membaca Al Qur’an. Al Hafizh berkata, “Menurut Bukhari, tidak ada satupun hadist yang shahih dala hal ini, yakni larangan bagi orang yang sedang junub and haid membaca Al Qur’an.”

E. Berdiam diri di dalam Masjid

  1. Orang yang sedang junub dilarang berdiam diri di dalam masjid. Aisyah ra. Bercerita bahwa ketika Rasulullah Saw datang (ke Madinah), rumah-rumah para sahabat berada di sekeliling masjid (dan menghadap masjid). Beliau bersabda, “Alihkan arah rumah-rumah ini dari Masjid” Ketika Rasulullah Saw kembali ke rumah beliau, para sahabat tidak melakukan apa-apa. Mereka berharap Rasulullah Saw memberikan dispensasi bagi mereka. Rasulullah Saw kembali menemui mereka dan bersabda,”Alihkan arah rumah ini dari masjid. Aku tidak membolehkan orang yang haid atau junub berada dalam masjid.” (HR Abu Dawud)

    Ummu Salamah ra. Juga bercerita bahwa Rasulullah Saw memasuki halaman Masjid Nabawi dan berkata, “Sesungguhnya Masjid tidak boleh didiami oleh orang yang junub, tidak juga yang haid.” (HR Ibnu Majah)

 

Sumber dari Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq

 

Read 1794 times Last modified on Sunday, 26 May 2013 03:38

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.