Keutamaan Surat Al Fatihah

05 Jan

Keutamaan Surat Al Fatihah

By 
(0 votes)

Dari Abu Sa’id ibnul Ma’la, dia menceritakan, “Aku sedang shalat kemudian Rasulullah memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya hingga aku selesai dari shalatku. Aku menghampirinya dan dia bertanya, “Mengapa engkau tidak segera datang kepadaku?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, aku sedang shalat.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah swt telah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.’ (QS Al-Anfal (8):24).

Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar akan mengajarkan kepadamu surat yang paling besar dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid ini.” Lalu beliau memegang tanganku. Ketika beliau hendak keluar dari masjid, aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau telah mengatakan bahwa engkau akan mengajarkanku sebuah surat Al-Qur’an yang paling agung. Beliau menjawab, “Ya. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin adalah sab’ul masani dan Al-Qur’anul Azim yang diberikan kepadaku.” (HR Ahmad dalam musnadnya)

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Dari Abu Hurairah ra. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw keluar menemui Ubay bin Ka’ab yang saat itu sedang shalat. Beliau memanggil, “Hai Ubay!” ubay menoleh, tapi tidak menjawab. Lalu dia mempercepat shalatnya. Setelah setelah itu ia segera menemui Rasulullah saw. Ubay memberi salam kepadanya, “Assalamu’alaika wahai Rasulullah!” Rasul menjawab, “Wa’alaikumussalam wahai Ubay. Apa yang mencegahmu untuk menjawabku, ketika aku memanggilmu?” Ubay menjawab, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya sedang shalat.” Rasulullah bersabda, “Tidakkah engkau menjumpai dengan ayat yang telah diwahyukan Allah kepadaku bahwa penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul. , apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian (QS Al-Anfal (8):24) Ubay menjawab, “Memang benar, wahai Rasulullah. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Rasulullah saw bersabda, “Sukakah engkau, bila aku mengajarkanmu, suatu surat yang tidak pernah diturunkan dalam kitab Taurat, tidak dalam kitab Injil dan tidak pula dalam kitab Zabur, tidak ada pula dalam Al-Qur’an, surat yang serupa dengannya?” Ubay menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar berharap mudah-mudahan sebelum aku keluar dari pintu ini engkau sudah mengetahuinya.” Lalu Rasulullah memegang tangan Ubay seraya berbicara dengannya dan Ubay memperlambat langkahnya karena khawatir beliau saw sampai di pintu masjid sebelum menyampaikan haditsnya. Ketika mereka mendekati pintu tersebut, Ubay bertanya, “Wahai Rasulullah! Surat apakah yang engkau janjikan kepadaku?” Rasulullah saw bertanya, “Surat apakah yang engkau baca dalam shalat?” Lalu Ubay membacakan kepadanya surat Ummul Qur’an. Sesudah itu Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, Allah tidak pernah menurunkan dalam kitab Taurat, dalam kitab Injil, kitab Zabur serta tidak ada dalam Al-Qur’an suatu surat pun yang serupa dengan surat itu (Ummul Qur’an). Sesungguhnya surat itu adalah As-Sab’ul Masani.” (HR Ahmad)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Qutaibah, dari Ad-Darawardi, dari Al-Ala dari ayahnya dari Abu Hurairah. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abdullah bin Ahmad. Diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi dan Imam Nasaai secara bersamaan.

Masih ada lagi keutamaan dari surat Al-Fatihah ini. Mari sama-sama kita perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini; dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa ketika kami dalam suatu perjalanan. Tiba-tiba seorang budak perempuan datang dan dia berkata, “Sesungguhnya pimpinan kabilah tersengat binatang beracun, sedang kaum lelaki kami tidak ada di tempat, adakah diantara kalian yang dapat me-ruqyah?” Seorang laki-laki dari kalangan kami bangkit dan pergi pergi bersama budak perempuan itu. Kami sebelumnya tidak pernah mengetahui bahwa laki-laki itu dapat meruqyah (pengobatan dengan jampi-jampi). Kemudian lelaki itu me-ruqyahnya dan ternyata pemimpin kabilah sembuh. Pemimpin kabilah itu pun memerintahkan untuk memberinya upah berupa 30 ekor kambing dan memberi kami susu. Ketika lelaki itu kembali, kami bertanya kepadanya, “Apakah engkau dapat me-ruqyah atau pandai me-ruqyah?” Ia menjawab, “Tidak. Aku hanya meruqyah dengan membaca Ummul Kitab.” Kami berkata, “Janganlah kalian membicarakan sesuatupun sebelum kita sampai dan bertanya pada Rasulullah.” Ketika kami tiba di Madinah, kami ceritakan hal itu kepada Nabi saw. Beliau menjawab, “Siapakah yang memberitahukan kepadanya bahwa surat Al-Fatihah adalah ruqyah?”

Imam Muslim dan Abu Daud telah meriwayatkan pula melalui riwayat Hisyam, yaitu Ibnu Hassan dari Ibnu Sirrin dengan lafaz yang sama.

Dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah saw yang saat itu sedang bersama malaikat Jibril, tiba-tiba malaikat Jibril mendengar suara gemuruh di langit. Malaikat Jibril menengadah ke langit dan berkata, “Ini adalah suara pintu langit dibuka. Pintu ini sama sekali belum pernah dibuka.” Lalu turunlah malaikat dan langsung datang kepada Nabi Saw, kemudian berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang telah diberikan kepadamu, tiada seorang nabi pun sebelummu yang pernah diberi keduanya yaitu Fatihatul Kitab dan ayat-ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Tidak sekali-kali kamu membaca suatu huruf darinya melainkan kamu pasti diberi pahalanya.” (HR An-Nasaai dan Muslim)

 

Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir

 

Read 1260 times Last modified on Tuesday, 21 May 2013 02:13

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.