Hukum Membaca Surat Al Fatihah

05 Jan

Hukum Membaca Surat Al Fatihah

By 
(1 Vote)

Mengenai hukum membaca Surat Al Fatihah ini terdapat 3 pendapat ;

1. Imam, makmum dan orang yang shalat sendirian wajib membaca Al Fatihah berdasarkan hadist “Barang siapa yang melakukan suatu shalat tanpa membaca Ummul-Qur’an, maka shalatnya tidak sempurna.” Dan “Tidaklah berpahala shalat yang didalamnya tidak dibaca Ummul-Qur’an.” Pendapat ini dipegang oleh Imam Syafi’i r.a.

2. Makmum (dalam sholat berjemaah) tidak wajib sama sekali membaca Al-Qur’an, baik surat Al Fatihah maupun surat lainnya, baik dalam shalat zahir maupun sir (bacaan tidak dikeraskan). Hal ini berdasarkan keterangan yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dari Jabir bin Abdullah, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan imam, maka bacaan imam berarti bacaan makmum juga.” Akan tetapi sanad hadist itu lemah dan diriwayatkan oleh Maalik dari Wahab Ibnu Kaisan, dari Jabir melalui perkataannya. Hadist ini diriwayatkan dari Nabi saw melalui jalur yang sedikitpun tidak sahih.Wallahu a’lam.

3. Dalam shalat sir, makmum wajib membaca Fatihah. Hal itu tidak wajib dalam shalat jahar karena dalam Shahih Muslim ada hadis dari Abu Musa al-Asy’ari. Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya imam itu dijadikan panutan. Apabila imam takbir, maka takbirlah kamu, dan apabila imam membaca (surat), maka simaklah olehmu.” Muslim menuturkan sisa hadis itu. Demikian pula halnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh para penyusun sunan, yaitu Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang diterima dari Abu Hurairah, dari Nabi saw beliau bersabda, ”Apabila imam membaca (surat), maka simaklah olehmu.” Muslim ibnul-hajjaj juga mensahihkan hadis itu. Kedua hadist itu menunjukkan kesahihan pendapat ini yang merupakan qaul qadim (pendapat lama) Imam Syafi’i r.a.

Tafsir membaca Ta’awudz dan hukum-hukumnya.

Allah Ta’ala berfirman, ”Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (QS : Al-A’raf : 200)

Allah Ta’ala berfirman ,

”Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutut. Sesunguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaan (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS : An-Nahl : 98-100).

Sebagian qari dan yang lainnya berpendapat bahwa ta’awudz itu dilakukan setelah membaca. Mereka berpegang kepada Zahir susunan ayat diatas (qara’ta = kamu telah membaca”) dan dimaksudkan dimaksudkan untuk menolak rasa bangga pada diri sendiri setelah selesai ibadah. Pendapat lain mengatakan bahwa ta’awudz itu dibaca saat memulai dan setelah selesai membaca Al Qur’an. Pendapat yang Masyhur dan dipegang oleh mayoritas ulama mengatakan bahwa bahwa ta’awudz dilakukan sebelum membaca guna menyingkirkan pengganggu. Menurut mereka, ayat ”Apabila kamu membaca Al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutut, berarti ”apabila kamu hendak membaca”. Penafsiran demikian sama dengan penafsiran firman Allah ”Apabila kamu mendirikan sholat maka basuhlah wajahmu dan kedua tangganmu”. Penafsiran demikian didasarkan atas beberapa hadist dari Rasulullah saw, Ahmad bin Hambal r.a. meriwayatkan dari Abu Said Al Khudri, dia berkata, ”Apabila Rasulullah saw hendak mendirikan sholat malam maka beliau membuka sholatnya, bertakbir dan berkata, ’Mahasuci Engkau, ya Allah, dengan segala puji-Mu, mahasuci nama-Mu dan Mahatinggi kemuliaan-Mu. Tidak ada Tuhan melainkan Engkau.’ Kemudian beliau bersabda, ”Tidak ada tuhan kecuali Allah’ sebanyak 3 kali. Lalu bersabda,”Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaanya, tiupannya dan hembusannya.”

Diantara manfaat ta’awudz adalah untuk menyucikan mulut dari perkataan sia-sia dan buruk yang biasa dilakukan dan untuk mengharumnya. Ta’awudz digunakan untuk membaca firman Allah. Ta’awudz berarti meminta perlindungan kepada Allah dan sebagai pengakuan atas kekuasaan-Nya, kelemahan hamba, dan ketidakberdayaannya dalam melawan musuh yang nyata, namun bersipat batiniyah, dan tidak ada yang kuasa untuk menolak dan mengusirnya kecuali Allah sebagai zat yang menciptakannya.

Jumhur ulama mengatakan bahwa ta’awudz bersipat anjuran (sunnah), bukan keharusan sehingga berdosa bila meninggalkannya. Ibnu sirin berkata, ”Apabila seseorang berta’awudz sekali seumur hidup, maka hal itu memadai untuk menggugurkan kewajibannya, dan bahwa Rasulullah saw mendawamkan ta’awudz. Ta’awudz dapat menolak setan.”

 

Diambil dari Ringkasan Tafsir Ibnu katsir Jilid I.

 

 

Read 2679 times Last modified on Tuesday, 21 May 2013 02:11

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.