Eh! Ini Lorong Haji Taib!

28 Jun

Eh! Ini Lorong Haji Taib!

(0 votes)

Ketua Rombongan Haji, Syarikat Gemilang, menghubungi saya. Ketika itu, Haji Ayub dan jemaah rombongannya baru tiba di Lapangan Terbang Jeddah.

“Ustaz. standby yah, ada seorang jemaah wanita yang bertingkah aneh. Ingatannya seperti tidak sempurna,” kata Haji Ayub kepada saya yang saat itu sedang di Madinah. Saya yang sudah beberapa hari di Madinah kemudian bersiap-siap menyambut kedatangannya. Tiga jam kemudian, rombongan tadi tiba di Madinah dan ditempatkan di Hotel Wasin. Saya terus bergegas ke sana. Setibanya disana, saya dikasih tahu ada seorang jemaah wanita menghadapi masalah. Saya juga diberitahu, ketika di Lapangan Terbang Kuala Lumpur (KLIA), jemaah wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.

 

Tetapi setelah mendarat di Jeddah, sikapnya mulai berubah. Jemaah wanita berusia 68 tahun itu mulai berbicara meracau dan sering bicara sendirian. Lebih merisaukan lagi, jemaah wanita ini ternyata datang seorang diri tanpa ditemani anak-anaknya atau saudaranya. Setelah selesai urusan menempatkan jemaah lainnya di hotel sehingga lewat malarn, saya memutuskan rnengantar jemaah tadi ke Hotel al-Haram, tidak jauh dari Hotel Wasin. Sebabnya di Hotel al-Haram ada seorang ustazah yang biasa menjaga jemaah terbabit.

Pukul 02.00 pagi, jemaah tadi saya serahkan kepada seorang ustazah di Hotel al-Haram. Tapi baru setengah jam saya meninggalkan mereka, ustazah tadi menghubungi saya kembali. “Ustaz kesini lagi, tolong ambil lagi jemaah tadi. Saya sudah tidak sanggup menjaganya. Dia mau bunuh diri. Disamping itu bicaranya juga ngaco,” kata ustazah pada saya. Saya bergegas kembali ke hotel tersebut. Setiba disana saya lihat keadaan jadi kacau. Ada jemaah yang mencoba membantu dengan melantunkan azan, juga ada jemaah yang mencoba memujuknya. Tapi semuanya tak berhasil. Jemaah wanita tadi tetap meracau seperti orang gila. Saya mencoba menyembuhkannya Jemaah tersebut dengan membacakan ayat-ayat suci al-Quran tetapi tetap tidak membuahkan hasil.

“Engkau jangan menggangu aku. Aku mau berangkat ke Mekah nih,” kata ibu tadi kalau kami coba menenangkannya.

“Ibu sudah sampai. Ibu sudah di Madinah sekarang ni,” kata saya.

Tapi ibu tadi berulang kali mengatakan dia masih belum sampai di Madinah. Dia masih di Malaysia.

Setelas lama dibujuk, barulah ibu itu mulai tenang. Kepala saya pun berpikir mencari cara menyelesaikan masalah tersebut.

“Jom kita bawa dia ke Masjid Nabi,” saya mengajak seorang rekan, Haji Jaafar dan dua orang jemaah lain menemani saya membawa ibu tadi ke Masjid Nabi. Saya berharap bila ibu ini melihat Masjid Nabawi nanti, ingatannya akan kembali pulih. Dari hotel kami berjalan kaki melalui lorong-lorong ke Masjid Nabawi yang terletak tidak jauh dari hotel. Sedang berjalan, tiba-tiba ibu ini menjerit, “Berhenti!!!”

Kami semua berhenti. “Kenapa Bu?” saya keheranan.

“Aku tahu tempat ni. Aku selalu datang kesini. Lorong-lorong ini semua aku kenal,” kata ibu itu. Kami semua tersenyum.

“Ibu tahu? Kita dimana sekarang ini?” tanya saya.

Saya berharap ingatannya sudah pulih dan dia tahu bahwa dia sudah berada di Madinah.

“Ini Lorong Haji Taib. Betul, Lorong Haji Taib. Aku selalu datang sini. Semua lorong disini sudah aku masuki,” kata ibu tadi serius.

Mendengar itu, kami semua tercengang.

“Ah... sudahlah.” kata saya dalam hati. Waktu itu, berbagai pikiran jelek menyerbu pikiran saya. Setahu saya, Lorong Haji Taib di Kuala Lumpur itu terkenal sebagai kawasan maksiat. syurga dunia. Segala yang haram ada di situ. Pelacuran, pengedaran narkoba, pecandu, judi dan kegiatan haram lainnya. Betulkah ibu ini melihat Lorong Haji Taib disini?

“Bu, ini bukan Lorong Haji Taib. Kita di Madinah. Sekarang kita mau ke Masjid Nabi. Tuh sudah kelihatan kubahnya,” kata saya sambil menunjukkan kubah melalui celah-celah bangunan.

“Bukan! Ini Lorong Haji Taib. Engkau lihat itu. Aku kenal semua lorong ini,” jawab jemaah tadi sambil menunjuk-nunjuk lorong kiri kanan. Jemaah lain dan Haji Jaafar hanya diam membisu. Saya coba mengajak ibu tadi meneruskan perjalanan ke Masjid Nabi tetapi ditolaknya.

“Aku gak mau pergi. Aku mau jalan-jalan di Lorong Haji Taib dulu,” katanya marah-marah saat kami coba paksa.

“Ibu, buat apa selalu pergi kesana?” saya coba mengorek.

“Aah aku pergi jalan-jalan. Kadang-kadang beli buah,” jawab ibu tadi kemudian terus merayau-rayau di lorong tersebut. Kami pun terpaksa mengikut ke mana saja dia pergi hampir selama 40 menit. Setelah ibu tadi benar-benar tidak mau pergi ke Masjid Nabi, akhirnya kami buat keputusan membawa dia balik lagi ke hotel.

Esoknya, kami bawa ibu tersebut berjumpa dengan seorang kaunselor di Madinah. Tapi keadaannya tetap sama. Setelah itu, kami bawa juga ke Hospital Tabung Haji di bangunan Alauddin, Madinah. Ibu tersebut terpaksa ditahan di wad. Sehari di hospital, keadaan ibu itu tetap sama. Mulutnya selalu saja berkata: “Aku di Malaysia, baru mau berangkat ke Mekah buat naik haji!”

Bila melihat keadaannya begitu, saya coba bertanya beberapa hal. Saya mau pastikan apakah ingatannya betul-betul hilang. “Ibu boleh mengucapkan astagfirullah!” kata saya. Anehnya, ibu tadi mengucap dengan sempurna. Saya suruh dia bersholawat. Lancar lafaz sholawatnya. Malah, ibu tersebut mampu membaca surat Yasin dan beberapa surah lain dalam al-Quran dengan sempurna.

Saya termenung. Kalau gila atau hilang ingatan, pasti ibu ini tak mampu membaca apa yang saya suruh. Tapi ini tidak, semuanya Iancar dan tanpa salah. Bila saya tanya berulang kali untuk dapat kepastian jawabannya tetap sama. Ibu ini benar-benar tidak tahu dia sudah sampai di Madinah dan akan melakukan ibadah haji. Malah sewaktu berbicara terus, berulang kali ibu tersebut bilang dia mau pulang dulu ke rumahnya di Keramat karena untuk ambil beberapa barang yang tertinggal sebelum berangkat ke Mekah. Esoknya malam hari ketiga, dia dibolehkan keluar dari hospital. Saat kami membawa kembali ke hotel, ibu tersebut meracau-racau dan menjerit-jerit lagi. Ibu itu berkata, “Saya mau pulang dulu, kenapa memaksa saya seperti ini. Saya mau pergi haji,” rungut ibu tadi.

Saat kami membujuk ibu itu mencoba bunuh diri dengan terjun ke dalam satu lubang bekas projek di depan hotel. Waktu itu, suasana tegang. Takut kecolongan saya pun terpaksa memeluknya supaya dia tak terjun ke dalam lubang yang dalamnya hampir tiga tingkat bangunan. Pada saat memeluk untuk menyelamatkan ibu tadi, datang seorang Arab marah-marah kepada saya. “Hey, tidak boleh, haram, haram,” katanya dalam bahasa Arab saat melihat saya memeluk ibu tadi. Saat itu terjadi pertengkaran mulut antara kami. Saya jelaskan keadaannya, tapi orang Arab tetap mengatakan tindakan saya itu salah sehingga mau mencambuk saya. Setelah beberapa lama, barulah orang Arab itu pergi. Lagi pula saya memeluk ibu tadi seperti seorang anak memeluk ibunya. Kepala ibu tersebut saya usap-usap sambil menasehatinya jangan bunuh diri. Ketika itu, tiba-tiba rekan saya yaitu Haji Jaafar menangis.

“Kenapa, haji?” kata saya heran.

“Aku sedih melihat ibu ini. Bagaimana kalau hal ini terjadi pada keluarga saya. Terjadi pada ibu saya sendiri,” katanya sambil menangis. Air matanya terus menetes. Saya juga turut sedih memikirkan musibah yang menimpa ibu tersebut. Bayangkan sebelum datang ibu ini normal saja, tetapi sebaik tiba di Tanah Suci ingatannya jadi tak waras. Esoknya kami terpaksa antar ibu tadi ke hospital lagi dan dia ditahan di wad sekali lagi. Di hospital pun, mulutnya selalu berkata, dia baru bersiap-siap hendak ke Mekah. Dia belum berangkat. Selama delapan hari di Madinah, keadaan ibu itu tetap sama dan waktunya hanya dihabiskan di hospital saja. Saat semua rombongan termasuk ibu tersebut bertolak ke Mekah keadaannya masih sama. Ibu tersebut tetap saja tidak tahu dia sudah sampai di Mekah.

Sewaktu di Mekah saya tanya apakah dia tahu cara-cara menunaikan umrah. Tapi dia geleng kepala tanda tidak tahu. Jadi kami terpaksa ajari dia, kemudian mengupah pekerja Tabung Haji untuk membantunya. Rukun-rukun umrah dilakukannya dengan mengikuti pekerja Tabung Haji tadi. Entah dia sadar atau tidak apa dilakukannya itu, kami sendiri tak tahu. Karena sewaktu di sana pun mulutnya tetap saja berkata, dia belum sampai di Mekah. Disebabkan keadaannya masih begitu, dengan bantuan pihak Tabung Haji, ibu itu terpaksa diantar pulang lebih awal ke Malaysia. Dia bersama kami selama 30 hari saja jika dibandingkan jemaah lain lebih dari 40 hari. Tapi anehnya setibanya di Malaysia, saya diberitahu, ingatan ibu tersebut kembali pulih. Pikirannya kembali normal. Dia tahu di mana dia berada. Ibu tersebut juga tak meracau lagi sebagaimana di Mekah dan Madinah dulu. Saya tidak tahu apa kaitan ibu ini dengan Lorong Haji Taib. Saya pun tidak mau mengorek rahsianya berhubung Lorong Haji Taib itu. Dan yang pasti sewaktu di Madinah, ibu ini tidak dapat pergi dan beribadah di Masjid Nabawi. Nasihat saya sebelum ke Tanah Suci bertaubatlah, insaflah supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan disana!

Mengesot Ketika Bertawaf  

Selain kisah ibu itu, ada satu lagi kisah yang menimpa jemaah lelaki. Sewaktu di Malaysia, saya lihat jemaah ini dalam keadaan baik-baik saja saja. Tapi sesuatu yang aneh terjadi ketika dia hendak melakukan tawaf. Waktu itu, saya lihat jemaah ini bertawaf dalam keadaan mengesot seperti orang yang lumpuh. Saya sendiri heran. Setahu saya dia bukan orang cacat. Sebelum ini keadaannya baik-baik saja. Tubuhnya juga sehat. Saya yang merasa aneh melihat kelakuaannya, menghampiri jemaah tersebut. Pas saya mendekat, saya lihat tengok dia sedang menangis.

“Kenapa nih,” tanya saya. Tapi jemaah ini diam membisu. Setelas dipaksa, barulah jemaah ini membuka mulut. Katanya semasa di Malaysia, memang tubuh badannya sehat-sehat saja. Ketika sampai di Jeddah pun sama. Tetapi sewaktu masuk dan berdiri di hadapan Kabah hendak melakukan tawaf, tiba-tiba dia tak bisa berdiri. Kedua-dua belah kakinya sakit seperti tak bisa berfungsi. Akhirnya dia terpaksa bertawaf dalam keadaan mengesot seperti orang cacat. Karena merasa aneh dengan apa yang dialaminya, ditambah pengalaman saya mengurus jemaah selama ini, saya pun menyelidiki latar belakangnya. Saya beritahu, niat saya sekadar ingin membantu. Saya minta dia menceritakan kejadian sebenarnya dan memberitahu saya apakah dia mengamalkan suatu ilmu yang salah. Setelah diselidiki rupa-rupanya terkaan saya memang tepat.

Jemaah ini sebenarnya mengamalkan satu jenis ilmu sihir. Dia mengaku mengamalkan ilmu pelaris untuk perniagaan restoran yang jadi usahanya. Caranya, dia memelihara seekor ular. Ular yang hidup itu kemudiannya dimasukkan ke dalam sebuah tempayan berisi air. Air yang di dalamnya ada ular tadi, kemudian digunakan untuk memasak makanan di restorannya. Masak nasi, lauk atau minuman semua menggunakan air tersebut. Hasilnya, perniagaan jemaah tadi semakin maju.

Sewaktu mendengar ceritanya, saya sendiri terkejut. Sampai begitu rupanya. Jadi saya yakin  disebabkan ilmu hitam reptilia itulah, tidak mustahil ketika tawaf dia mengesot seperti ular. Setelas itu, saya nasihati jemaah ini agar segera bertaubat sebenar-benarnya. Mohonlah ampunan kepada Allah. Segala ilmu yang selama ini dipakainya harus dibuang. Sebab cara itu sebenarnya syirik dari sisi agama. Alhamdulillah jemaah ini mendengar nasihat saya. Setelah bertaubat, jemaah tadi dapat berjalan seperti biasa semula. Segala perjalanan ibadah di Tanah Suci juga berjalan sempurna. Jadi saya berpesan sebelum ke Tanah Suci, bersihkan diri dari segala dosa dan perbuatan syirik. Bertaubatlah dari dosa-dosa yang dilakukan. Satu lagi  bersiaplah dengan ilmu agama sebelum ke sana. Dengan itu, mudah-mudahan segala perjalanan ibadah dipermudah dan diterima Allah SWT.

(Seperti diceritakan oleh Ustaz Azlan Suhaimi, 45, guru agama, pembimbing haji dan umrah, Gemilang Travel & Tour kepada wartawan Mastika, Kairul Anwar Yusop.)

Read 2258 times Last modified on Friday, 06 February 2015 02:27

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.