Ditendang, Dibakar & Ditoreh Pisau di Tanah Suci

05 Nov

Ditendang, Dibakar & Ditoreh Pisau di Tanah Suci

(0 votes)

Pada tahun 1990, hati saya terpanggil untuk melakukan ibadah haji ke Mekah. Waktu itu saya bekerja sebagai seorang anggota kepolisian berpangkat inspektur di Kluang, Johor. Saya bertugas sebagai anggota kepolisian sejak tahun 1982. Kebetulan ibu saya dapat uang hasil menjual tanah warisannya. Lalu uang itu dibagikan kepada kami anak-anaknya. Saya kebagian empat ribu ringgit waktu itu. Pesan Ibu kepada saya agar uang itu digunakan untuk berangkat haji ke Mekah.

Pada waktu itu, uang sebesar itu sudah cukup untuk membiayai keberangkatan ke Tanah Suci untuk satu orang. Namun, saya berniat mau berangkat bersama isteri saya, Nozini Mohd Nor. Mengingat uang yang terkumpul untuk isteri belum cukup, saya tunda niat untuk berangkat ke Mekah. Saya minta waktu setahun untuk mengumpulkan uang sehingga cukup untuk kami berdua. Selama setahun itu juga, selain mengumpulkan uang, saya turut hadir di berbagai majlis keagamaan dan kursus haji sebagai persiapan memperkuat sisi kerohanian saya.

Setiap malam saya tak pernah tertinggal untuk melakukan solat taubat. Tujuannya agar saya benar-benar ‘bersih’ dan segala dosa saya diampuni sebelum menjejakkan kaki ke Tanah Suci kelak. Alhamdulillah, niat saya untuk berangkat ke tanah suci akhirnya dikabulkan Allah. Pada pertengahan tahun 1991, impian saya dan isteri terlaksana. Kami bertolak menggunakan kapal terbang dari Senai. Ketika itu saya berusia 30 tahun manakala isteri 29 tahun. Selama dalam penerbangan, saya merasa yakin tidak akan terjadi apa-apa disana.

“Aah, sudah ratusan kali sholat taubat aku laksanakan. Tentu semua dosa sudah diampuni.” Begitulah anggapan saya waktu itu. Sampai di Jeddah, saya mulai merasa lain, ada semacam rasa sedih, takut dan tiba-tiba saya menangis sampai-sampai isteri terkejut dengan perubahan saya. Entah kenapa tiba-tiba saya mulai merasa tidak enak hati. Kami menaiki bis menuju ke Madinah. Sampai di depan hotel penginapan, pas saya turun dan menjejakkan kaki ke tanah, tiba-tiba saya tidak dapat bernafas. Dada terasa sesak bagai dihimpit sesuatu yang berat. Bagaikan tiada oksigen dalam ruang udara di kota Madinah itu. Saya bersender ke dinding deretan toko-toko. Pelan-pelan saya coba bemafas tetapi terasa amat sulit menghirup udara di situ. Isteri saya sudah cemas. Diurut-urutnya dada saya.

“Mungkin ini balasan Allah!” kata-kata itu selalu saya camkan dalam fikiran saya. Dalam hati, saya hanya mampu beristighfar dan memohon ampun dari Allah. Lebih kurang 10 menit kemudian, barulah saya pulih dan dapat bernafas seperti biasa. Setelah itu, saya dan isteri berpisah karena menuju ke kamar masing-masing di hotel penginapan yang disediakan.

Terima ‘pukulan ghaib’ di Masjid Nabawi

Sebelum masuk waktu Asar, saya pun pergi ke Masjid Nabawi. Sampai di sana, saya solat seperti biasa. Setelah selesai solat, saya pergi ke Raudhah, kawasan antara mimbar dan makam Nabi. Kebetulan kawasan di situ agak lengang. Niat di hati mau berzikir sementara menunggu masuknya waktu Maghrib. Saya pun duduk bersila. Tangan kanan memegang tasbih. Baru saja saya buka mulut mahu berzikir, tiba-tiba... Duk! Duk! Pukulan bertubi-tubi melayang ke wajah saya. Saya tak sempat saya angkat muka, karena pukulan itu tidak henti-henti menyerang saya. Dari kanan, depan dan belakang. Bukan hanya wajah saya yang dipukul berkali-kali, malah terasa badan saya juga disepak, ditendang! Tak ubah bagaikan ada berpuluh orang yang sedang memukuli saya secara bersamaan. Saya hanya mampu menutupi muka dengan kedua-dua belah tangan sambil menahan kesakitan. Sakitnya bukan kepalang, tak ubah seperti sedang dikeroyok puluhan lelaki secara serentak. Bagaikan dipentung dan ditendang beribu-ribu kali. Kurang lebih satu menit lamanya, tiba-tiba segala pukulan itu berhenti. Saya angkat muka, saya pandangi sekeliling saya. Tiada siapapun yang lewat di sebelah saya. Memang sewaktu saya dipukuli tadi, saya tidak melihat bayangan apapun. Aneh, pukulan bertubi-tubi itu datang bagaikan angin lalu. Tasbih di tangan terjatuh, tubuh saya juga seakan bergoncang menahan pukulan tadi. Saya lihat sekeliling dan tidak satu orangpun yang saya rasa melihat apa yang baru saya alami. Seluruh wajah dan badan saya terasa amat sakit karena baru saja kena pukulan.

Saya bangun, terhuyung-huyung badan saya hendak berjalan karena menahan rasa sakit. Saya terus berjalan keluar dari Masjid Nabawi. Saya batalkan niat untuk berzikir. Saya mau pulang ke hotel saja. Selama perjalanan pulang, terasa ada cairan hangat mengalir di dahi. Saya seka. Darah!!

Sampai di kamar hotel, saya lihat cermin. Anehnya, tidak ada sedikitpun kesan lebam pada wajah atau badan. Malah, tidak ada tanda luka pada kepala saya. Jadi, dari mana darah tadi mengalir? Seluruh badan saya sakit-sakit, tak ubah seperti baru selesai dipentung. Saya menangis seorang diri. Terasa apa yang saya alami tadi salah satu balasan Allah. Agaknya, beginilah yang dirasakan oleh orang yang pernah saya pukuli dulu. Saya teringat, sepanjang saya bekerja sebagai polisi, agaknya sudah tak terhitung orang yang kena pukulan, pentungan atau sepakan kaki saya. Maklumlah, kadangkala kesal dengan penjahat atau dalam usaha menangkap pelaku kriminal, memang kaki dan tangan saya pun turut sama ‘mengerjakan’ mereka. Memukul orang sampai berdarah, itu hal biasa!

Saya yakin apa yang terjadi ada kaitan dengan apa yang saya lakukan dalam tugas. Mungkin, sebab saya suka mernukul tersangka atau pelaku kiriminal menyebabkan saya kini dibalas dengan pukulan ghaib di Tanah Suci. Saya ceritakan kejadian itu pada isteri. Dia juga sependapat dengan saya. Karena sakit seluruh tubuh badan akibat dipukuli, malam itu saya hanya solat di dalam kamar saja.

Keesokan paginya, saya pergi kembali ke Masjid Nabawi. Saya hendak solat seperti biasa. Selesai solat, saya berniat mau mengaji. Saya buka lembaran mushaf al-Quran. Bismillahirrahmanirrahim... Dukk! Dukk! Belum sempat saya mulai membaca surah, saya dipukul lagi bertubi-tubi. Sama seperti semalam, seluruh tubuh saya ‘dihajar’. Saya hanya mampu menutup muka dengan kedua-dua tangan sambil membungkuk menahan segala pukulan itu. Selepas semenit kemudian, pukulan itu hilang. Orang di sekeliling saya terlihat tidak tahu apa yang saya alami. Hanya saya seorang diri yang merasakannya. Saya menangis lagi. Saya sangka balasan semalam sudah berakhir. Rupanya tidak. Begitulah seterusnya yang saya lalui sepanjang berada di Madinah. Setiap kali saya mau melakukan amalan sunat, belum sempat memulainya, saya akan ‘dihantam’. Saya menerima balasan dalam dua cara. Pertama, dipukuli bertubi-tubi oleh ‘orang ghaib’. Kedua, pasti ada orang lain yang akan melanggar tubuh saya. Pernah suatu saat saya mau berzikir, tiba-tiba rnuncul seorang lelaki Arab lalu terus menyepak saya hingga terpelanting tasbih saya. Dia terus berlalu tanpa menoleh, tanpa sedikitpun tanda-tanda dia meminta maaf. Kelakuan itu amat aneh karena sepengetahuan saya orang-orang Arab jika melanggar kita, mereka akan terus memeluk sambil meminta maaf. Namun berlainan dengan apa yang saya alami.

Jadi sepanjang berada di Masjid Nabawi, hanya sewaktu sedang solat saja saya tidak diganggu. Selebihnya, jika mau rnelakukan amalan sunat seperti mengaji atau berzikir, selalu gagal. Tiap kali saya mau melakukannya, saya akan terus dipukul, diterjang dan dilanggar. Yang anehnya lagi, apabila berada di luar kawasan Masjid Nabawi, kejadian-kejadian itu tidak pernah menimpa saya. Selama delapan hari berada di Madinah, saya tidak dapat melakukan amalan sunat di Masjid Nabawi. Hanya sekadar dapat solat saja. Sepanjang delapan hari itu juga saya tidak terlepas dari pukulan ghaib, sepakan dan terjangan sepanjang berada di Masjid Nabawi. Pada awalnya, saya menangis memohon pada Allah agar diampunkan dosa dan dihentikan pukulan-pukulan itu. Namun, akhirnya saya ridha. Bagi saya, jika ini balasannya kerana perbuatan saya yang suka memukul orang, biarlah Allah bayar di atas muka bumi ini daripada di akhirat kelak. Walaupun badan terasa sakit hingga ada kalanya sukar hendak bergerak, saya pasrah dan menerima itu sebagai bayaran cash dari Allah. Di saat menanggung beban siksaan itu, ada juga peristiwa yang menggembirakan hati saya. Diantaranya pada hari ketujuh, saya dapat khabar gembira bahwa isteri saya positif hamil anak kelima. Selain itu, saya juga berpeluang diperbolehkan oleh pengawal keselamatan (Askar) yang untuk melihat dari dekat makam Rasulullah.

Empat Jam ‘Dibakar’ di Arafah

Hari kesembilan, kami bertolak ke Mekah. Ketika ini saya tak putus-putus berdoa agar Allah mengampuni dosa saya supaya saya bisa menjalani ibadah haji tanpa halangan. Alhamdulillah, sepanjang berada di Mekah menunaikan ibadah, tiada masalah yang saya hadapi. Semuanya dapat dilakukan dengan sempurna tanpa ada halangan. Karena itu, saya menyangka balasan saya sudah selesai. Rupanya tidak! Selepas 27 hari berada di Mekah, kami kemudian bertolak dengan bis menuju ke Arafah untuk wukuf. Ketika itu merupakan tahun pertama Malaysia memperkenalkan pemakaian gelang besi sebagai tanda identitas diri. Sebelum bertolak, saya ketatkan gelang itu karena takut terlepas sewaktu mengerjakan wukuf. Sampai waktu wukuf, saya bersama jemaah lain duduk di bawah tenda yang disediakan. Kipas angin pun turut dipasang dalam tenda itu.

Selepas menunaikan solat fardu Zuhur, semua orang mulai berzikir sambil menunggu masuk waktu Asar. Saya duduk bersila, mulai berzikir. Tapi, tak sampai lima menit berzikir, saya mulai merasa panas. Bahkan semakin lama semakin panas. Yang membuat saya heran, saya lihat orang lain biasa saja. Seperti tidak merasakan panas seperti yang saya rasakan. Saya juga menjadi tidak tenang duduknya. Kepanasan yang saya rasakan semakin membara. Semakin lama semakin panas. “Panas! Panas! Tolong ya Allah, Panasnya!” Saya menjerit dalam hati. Sungguh, ketika itu saya merasa tak ada bedanya dengan sedang dibakar api. Terlalu panas bahkan. Pergelangan tangan saya terasa mau putus karena gelang besi yang melekat pada kulit tak ubah bagaikan besi panas yang bisa mencairkan kulit hingga ke tulang. Saya berpeluk tubuh, menangis. Orang lain menangis karena merasa sedih, terharu, insaf dan tanda penyesalan, tetapi saya saat itu sebenarnya menangis karena sedang menanggung kesakitan akibat ‘dibakar’. Zikir, doa semua hilang. Yang ada dalam fikiran saya hanyalah meminta ampun kepada Allah. Sakitnya tidak terperi. Tak ubah bagaikan saya sedang duduk dalam kawah gunung berapi. Hampir empat jam saya ‘dibakar’. Mulai selepas waktu Zuhur hingga masuk waktu Asar. Saya hanya mampu menangis tanpa dapat melakukan amalan sunat. Kemudian, terdengar lantunan azan menandakan sudah masuk waktu Asar.

Selepas saja azan selesai, tiba-tiba saya mendengar suara lelaki berkata: “Pada hari ini Allah buka pintu syurga dan angin syurga pun keluar. Dan barang siapa yang berada di Arafah akan merasakan angin syurga ini. Dan pada hari ini Allah ampuni segala dosa manusia!”

Setelah selesai suara itu berkata-kata, tiba-tiba saya merasa ada angin sejuk yang bertiup ke arah saya. Angin itu menghilangkan api panas yang saya rasakan. Malah, semakin lama angin itu semakin dingin hingga akhirnya saya menggigil kedinginan bagaikan berada di kawasan bersalju, padahal ketika itu musim panas. Menggigil saya berjalan ke arah tempat mengambil air wudu. Hanya saya seorang yang merasa kedinginan. Jemaah lain sepertinya biasa saja. Selepas mengambil wudu, barulah saya dapat merasakan suhu sekeliling seperti biasa. Waktu itu saya sangat bersyukur. Tak sanggup rasanya dibakar hidup-hidup lagi.

Ditoreh Pisau Cukur

Saya sangka balasan dibakar itu adalah paling maksimum dan yang penghabisan. Tidak juga! Malam itu saya menuju Mina untuk melontar jumrah, melakukan tahalul pertama. Selesai melakukan tahalul, saya pun pergi mencari tukang cukur. Pada saat tukang cukur itu sedang asyik mengorek pisaunya pada kepala saya, tiba-tiba datang seorang polisi lalu memegang tangan si pencukur itu. Srett! Pisau kecil bermata tajam itu menggores kepala saya sebelah kiri, dari atas hingga ke bawah. Ini karena cengkraman tangan polisi itu cukup kuat sewaktu si pencukur sedang menekan mata pisaunya pada kulit kepala saya. Sejenak kemudian, darah keluar meleleh membasahi wajah saya. Untunglah hanya luka kecil walaupun bekas lukanya itu jelas kelihatan. Polisi dan si pencukur itu berulang kali memohon maaf pada saya. Polisi itu datang menangkap pencukur itu tidak memiliki ijin. Saya hanya tersenyum. Dalam hati saya berkata: “Rupanya masih ada lagi!” Sungguh, insiden bercukur itu saya sangka yang penghabisan. Tidak juga. Masih ada yang menanti”!

Selesai bertahalul, saya kembali lagi ke Mekah. Saya pun membuat persiapan untuk pulang dan melakukan tawaf wada atau tawaf selamat tinggal. Sebelum melakukan tawaf, terlebih dahulu saya melakukan solat sunat musafir. Semasa sedang sujud yang terakhir, tiba-tiba... burrr! Bersembur air dari mulut dan hidung saya. Terasa bagai mau patah hidung dan gigi saya saat terkena tendangan seorang lelaki Arab bertubuh besar. Hampir saya tersungkur dibuatnya. Tanpa mengucapkan maaf, lelaki itu terus berlalu selepas memberi ‘hadiah’ terakhir untuk saya. Dalam sekejap mata saja dia sudah hilang dari pandangan. Batal solat saya. Cepat-cepat saya beristighfar. Rupanya, ada lagi last payment dari Allah. Saya ambil air wudu dan solat lagi. Alhamdulillah, saya selesai mengerjakan rukun yang terakhir dan akhirnya selamat pulang semula ke tanah air.

Semua kisah yang saya ceritakan di atas tidak pernah saya ceritakan kepada sesiapa kecuali isteri saya. Walau pun banyak pengalaman pahit sewaktu kali pertama berkunjung ke rumah Allah, namun saya tidak merasa kapok. Malah, saya memasang niat akan kembali semula ke sana suatu hari nanti. Selepas pulang dari Mekah, ramai juga teman-teman satu korp yang bertanya tentang pengalaman saya, namun saya katakan tidak ada kejadian apa-apa. Ketika itu seorang demi seorang yang pernah pergi ke Tanah Suci menceritakan pengalaman mereka di sana. Seorang kawan wanita bercerita sewaktu dia pergi ke Mekah, dia langsung tidak bisa melihat Ka’bah. Yang anehnya, hanya dia saja yang tidak bisa melihatnya. Setelah mutawif menasihatinya agar mengerjakan solat taubat, akhirnya dia bisa melihatk Ka’bah. Saya teringat juga kisah seorang anggota pollsi yang mengerjakan haji bersama saya ketika itu. Dia memang sering pergi ke Mekah baik untuk menunaikan ibadah umrah atau haji. Namun, setiap kali dia masuk ke kawasan Mekah, kakinya tiba-tiba jadi lemah, langsung tidak bisa berjalan. Jika keluar dari kawasan Mekah, kakinya bisa berfungsi seperti semula. Terpaksalah dia mengupah orang mengusungnya untuk menjalankan ibadah sewaktu di Mekah. Katanya, sudah sering sekali dia berdoa memohon pada Allah agar diampunkan dosanya namun mungkin belum dikabulkan karena keadaannya masih tetap begitu setiap kali ke Mekah. Ada pula seorang rekan kerja saya yang berpesan agar saya hati-hati jika ke Mekah karena katanya di sana ‘kotor’. “Di Mekah itu penuh dengan najis. Dimana-mana di atas lantai penuh dengan tahi termasuklah di sekitar Ka’bah. “Orang Arab memang jorok, berak dimana-mana,” cerita teman saya itu yang terlebih dahulu berangkat ke Tanah Suci sebelum saya. Saya merasa aneh juga dengan pengalaman dia itu. Mana mungkin Tanah Suci sekotor itu? Saya pergi kemana-mana, tidak pernah menemukan kotoran, bersih saja di sana. Malah, kalau ada sedikit air yang tumpah, para petugas cepat datang untuk membersihkannya. Rupanya barulah saya faham. Mungkin najis yang dilihat teman saya tadi adalah najisnya sendiri. ‘Najis’ yang mungkin dilakukannya semasa bertugas sebagai polisi dulu. Akhirnya, dia tidak dapat melakukan ibadah di sana karena selalu berusaha menghindar dari terinjaknya kotoran yang menurut penglihatan dia sendiri kotoran itu ada dimana-mana.

***

Setahun setelah pulang dari Mekah, Ustaz Shahrin, 50, mengambil keputusan mengundurkan diri dari kepolisian Malaysia. Beliau kemudian meneruskan pendidikan di bidang pengobatan alternatif Islam di Colombo dan kini mendirikan pusat pengobatan sendiri di Kota Bharu, Kelantan. Sumber : Majalah Mastika. April 2011.

Read 6592 times Last modified on Sunday, 31 July 2016 00:02

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.