Sebuah Nasehat

23 Apr

Sebuah Nasehat

(0 votes)

Hari per-1, tahajudku tertinggal...Dan aku begitu sibuk akan duniaku...Hingga Dzuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil...Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan adzan magrib...Dengan niat kulakukan bersama Isya, itupun terlaksana setelah acara tv selesai.

Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi.....Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama....

Hari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku....Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dari 200 halaman....Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya.....Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzz....Al-qur'an yang 114 surat, hanya 12 surat yang kuhapal itupun dengan terbata-bata....Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan lancarnya aku menceritakan.
Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku....Sorenya aku datang ke selatan Jakarta dengan niat mengaji.....Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan.....Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku.....Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman....yang ada disamping kiri & kananku...Padahal bada Magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa.
Hari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku.....Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh ......saat imam sholat Jum'at kelamaan bacaannya....Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat…serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam.
Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku........Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman-temanku...Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai ratusan ribu tak terasa keluar.....Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku....Hanya uang dua ribu rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh.
Hari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal......Aku bermalasmalasan ditempat tidurku menghabiskan waktu.....Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga....Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini.....Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya...& ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingatkan aku tentang tahajud.
Kematian, kenapa aku baru gemetar mendengarnya? Padahal dari dulu sayap-sayapnya selalu mengelilingiku dan Dia bisa hinggap kapanpun dia mau,
¼ abad lebih aku lalai....Dari hari ke hari, bulan dan tahun....Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah....Kurang mensyukuri walaupun Allah tak pernah meminta....Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku.....Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku.
Ya Allah, andai ini merupakan satu titik hidayah.....Walaupun imanku belum seujung kuku hitam....Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa....Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas.
Saat aku melipat sajadahku.....
Amin....

==============================================================

Ada sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya disini ada hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan tersebut. Sayangnya begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya bila kehilangan shalat tahajud, ia menangis tersedu-sedu,

"Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!", ujarnya seakan  menyesali diri. Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang  karena jadual tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju  mesjid, tapi akhir- akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya  ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah saja.

Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. "Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!" Pikirnya.

Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta'lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang.

Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan keuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras.

Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercerabutnya taufiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti ini….

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS :10:12)

 

sumber dari sebuah milis.


Read 2098 times Last modified on Tuesday, 30 July 2013 06:46

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.