Mereka yang Dipilih Allah

11 Jun

Mereka yang Dipilih Allah

(0 votes)

Abu Muaz Al-Kuwaiti

Abu Muaz Al-Kuwaiti (Adil Al-Ghanim), berasal dari Kuwait. Komandan Mujahidin Asing. Syahid dalam operasi Miracle pada tanggal 21 Juli 1995, sebuah operasi militer yang dilakukan untuk merebut kembali wilayah Muslim yang dirampas tentara Serbia. Berumur akhir dua puluh. Kisah dari orang pertama.

Abu Muaz adalah anak seorang gubernur di Kuwait. Ia juga seorang atlet nasional Kuwait. Ia memegang rekor nasional Kuwait dan pernah mengikuti Olimpiade. Abu Muaz mengikuti jihad di Afghanistan selama enam tahun. Dalam masa itu, setiap beberapa bulan ia kembali ke Kuwait untuk menggalang dana dan kesadaran kaum muslimin tentang Jihad di Afghanistan. Ia berkeliling ke masjid-masjid di Kuwait, dan berdiri memberikan ceramah seusai shalat berjamaah, untuk mengingatkan mereka tentang kewajiban membantu saudara-saudara seiman di Afghanistan.
Abu Muaz tiba di Bosnia pada 04 Mei 1994 dan segera dipercaya menjadi komandan mujahidin asing, karena pengalaman militer dan organisasinya selama jihad di Afghanistan. Ia seorang mujahid yang sangat tawadhu. Dalam Operation Miracle di bulan Juli 1995, karena posisinya yang senior, Abu Muaz tidak ditempatkan dalam regu penyerbu. Hal ini membuatnya sangat sedih.
Setelah operasi ini selesai, Abu Muaz pergi ke puncak gunung  dan  mengkonsolidasi pasukannya. Ia kemudian terkena tembakan di kakinya dan gugur sebagai syuhada. Empat hari kemudian, seorang mujahid yang berasal dari Madinah Al-Munawarrah yang juga berjihad di Bosnia melihatnya di dalam mimpi. Ia melihat Abu-Muaz kembali ke masjid di dalam kamp mujahidin di garis depan. Mujahid itu menuturkan,

"Saya melihat Abu-Muaz bertemu dengan para mujahidin, semua orang tampak gembira bertemukembali dengannya. Tampak kaki bagian atasnya dibalut, tepat dimana ia tertembak. Saya merasa kesal, bagaimana mungkin ia berada di sini jika ia seharusnya syahid? Maka saya dekati dia, kemudian saya bersalaman dengannya dan bertanya,
'Abu-Muaz, mengapa engkau di sini? Apakah engkau syahid atau tidak?’
Ia berpaling dan tidak mengatakan apa-apa. Kemudian, saat tidak ada yang melihatnya, ia segera menuju ke pintu keluar masjid. Saya tahu dia akan keluar dan pergi, jadi saya menunggunya di pintu keluar masjid. Ia meninggalkan masjid dan pergi keluar. Kemudian saya melihat sebuah lempengan di bawahnya yang mengangkatnya naik ke arah langit. Saya kemudian mengejarnya, menangkap kakinya dan berkata,
'Abu-Muaz! Saya mohon beritahu saya apa yang terjadi! mengapa engkau di sini? Apakah engkau syahid atau tidak?’
Ia menjawab,

'Ya, saya syahid.'

Saya bertanya padanya,

'Seperti apa mati syahid itu?’

Ia menjawab,

'Pada hari operasi  itu, sebuah jendela terbuka  di langit menuju surga dan semua mujahidin yang akan syahid pada hari itu pergi melalui jendela itu langsung menuju surga.’

Saya kemudian bertanya,

'Bagaimana rasanya mati syahid?'

Ia menjawab,

’Engkau tidak merasakan apapun. Begitu engkau mati, muncul dua gadis cantik berambut pirang yang mengantar engkau ke surga.’

Aku bertanya,

'Seperti apa surga itu?'

Abu-Muaz menjawab,

'Bukan cuma satu surga, tapi banyak surga! '

Saya bertanya lagi,

'Bagaimana dengan kenikmatan dan kesenangannya?’

Ia menjawab,

'Setiap hari dan di setiap tempat.'

Abu-Muaz kemudian berkata,

‘Sekarang lepaskanlah aku.'

Maka saya kemudian bertanya pada Abu-Muaz,

‘Satu pertanyaan terakhir, dapatkah engkau memberitahu saya, apakah saya akan mati syahid?’

Abu-Muaz mengatakan,

'Saya tidak dapat mengatakannya padamu'

Maka saya kemudian bertanya,

‘Dapatkah engkau memberitahu saya dengan datang dalam mimpiku beberapa hari sebelum saya mati?'

dan Abu-Muaz menjawab,

'Saya akan mencoba. Sekarang lepaskanlah saya.'

Seorang mujahid lainnya yang mengenal Abu Muaz dengan dekat menceritakan:
"Ia seorang yang sangat kaya di Kuwait, namun masih mengingat kewajibannya terhadap Jihad. Ia menghabiskan enam tahun di Afghanistan dan setelah perang Afghanistan selesai, ia datang ke Bosnia. Saudaraku ini berbicara sangat singkat, namun jika ia bicara, ia akan memberikan pelajaran tentang Islam dan berita akan apa yang terjadi di Bosnia. Dan bila ia berbicara, ia membuatmu merasa senang. Bahkan jika berita itu berita yang paling buruk sekalipun, ia membuatmu merasa senang mendengarnya. Karena akhlak baiknya dan pengalaman organisasionalnya, para ikhwan mujahidin memilihnya menjadi komandan seksi mujahidin asing.
Sebuah nikmat yang Allah berikan padanya adalah tafsir mimpi. Para mujahidin biasa bertanya tentang mimpi mereka padanya dan ia akan menjelaskan artinya, dan sangat sering penjelasannya sesuai dengan kenyataan. Saudaraku ini bekerja siang dan malam untuk Islam dan saudara-saudara mujahidin lainnya. Dan pada operasi Miracle Allah mengambilnya sebagai seorang syahid. "
Ketika masih hidup, Abu Muaz pernah bercanda, ‘Jika saya mati, jika Allah menerima saya sebagai syuhada, ambillah gambar wajah saya dari kiri ke kanan, agar orang-orang dapat melihat apakah ini wajah seorang Arab atau bukan!’ Ia mengatakan ini untuk menjawab orang-orang yang  membantah adanya kehadiran mujahidin asing di Bosnia. Nyawanya meninggalkan tubuhnya dengan sebuah senyum khas di wajahnya dan video kamera mengambil gambar wajahnya dari  berbagai sudut, sebagai bukti akan dua hal: (i) bahwa ini adalah seorang mujahid asing yang bukan berasal dari Bosnia dan (ii) untuk menunjukkan bahwa sebagian mujahidin syahid dengan senyum di wajah mereka.
Semoga Allah menjadikan engkau tetap tersenyum, wahai Abu Muaz, dan mengangkatmu bersama barisan para Nabi dan para mujahidin yang syahid sebelummu. Amin.

“Sesungguhnya tetesan darah yang pertama kali tercucur dari salah seorang di antara kalian, menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosanya oleh Allah, sebagaimana Dia merontokkan dedaunan dari dahan pepohonan, dan dua orang bidadari bergegas menyongsongnya, serta mengusap debu yang menempel wajahnya, keduanya berkata,’Selamat datang bagimu.’ Dan dia pun menjawab,’Selamat datang bagi kalian berdua.“ (Hadits Riwayat al-Bazzar dan Thabrani)

 

Abu Umar Al-Harbi 

Abu Umar Al-Harbi, berasal dari kota Madinah Al-Munawarrah, Saudi Arabia. Komandan unit. Syahid dalam operasi Miracle di Bosnia pada 21 Juli 1995. Berumur awal dua puluhan. Kisah dari orang pertama.
Abu Umar Al Harbi datang dari Madinah Al-Munawarrah ke tanah jihad Bosnia dan meninggalkan kehidupan yang mewah dan berlimpah di belakangnya. Begitu sampai di kamp yang berada di garis depan, ia tidak pernah lagi kembali ke kota. Selama dua tahun ia berada di kamp, ia tidak pernah ingin kembali ke kota di mana terdapat kehidupan dunia yang menarik dengan toko-toko dan restaurannya. Ia menghabiskan waktunya di kamp atau di bunker-bunker  yang berada di pegunungan. Bahkan jika ia membutuhkan sesuatu dari kota ataupun dari markas besar, ia meminta bantuan para mujahidin untuk mengambilkan atau membelinya dari kota.
Al-Harbi selalu berusaha untuk membuat para mujahidin tertawa dan terhibur. Di manapun ia berada, ia selalu membawa suasana yang riang, sehingga ia dicintai dan sangat populer di mata  semua mujahidin. Jika seseorang melihatnya, ia tampak seperti seorang yang sering bercanda, namun ia seperti singa di tengah pertempuran. Meskipun rasa humornya tinggi, kecintaannya terhadap sesama muslim sangat tinggi. Saat pembantaian kaum Muslimin di Srebrenica terjadi pada tahun 1995 (dimana sekitar delapan ribu kaum muslimin tewas dibantai oleh tentara Serbia dalam waktu satu minggu, padahal Srebrenica dijaga oleh pasukan UNPROFOR PBB), Umar Al-Harbi tampak sangat sedih dan terpukul, melebihi mujahidin lainnya.
Dalam operasi Miracle, Harbi dipercaya menjadi komandan unit khusus yang terdiri atas enam mujahidin. Tugas yang diberikan pada mereka adalah untuk merebut tiga buah bunkerSerbia yang terletak di medan yang paling berbahaya. Bunker yang pertama berada di tengah lapangan terbuka yang ditanami ranjau. Tidak ada pohon ataupun semak-semak yang dapat dipakai berlindung, dan hanya ada satu jalan akses keluar masuk yang langsung mengarah ke   bunker  tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan bunker lainnya yang biasanya tersembunyi oleh pohon-pohon ataupun gundukan tanah.
Rencana penyerangannya adalah sebagai berikut : Salah satu mujahidin akan membuka serangan terhadap bunker tersebut dari salah satu sisi dengan RPG (granat berpeluncur roket), kemudian mujahidin lainnya akan berlari maju melalui jalan akses yang ada. Saat mujahidin mengambil posisi dan menunggu saat-saat untuk menyerang, orang-orang Serbia di bunker itu mulai menembak, seakan-akan mereka tahu bahwa mujahidin akan menyerang. Para mujahidin di unit tersebut panik, dan saat mereka semua berpikir apa yang harus dilakukan, Al-Harbi segera berlari&n cepat mendekati bunker tersebut, melintasi lapangan terbuka di tengah-tengah tembakan yang mengarah pada para mujahidin. Para mujahidin lainnya ragu-ragu untuk mengikutinya dan berteriak padanya,

“Apakah ada ranjau?’

Al-Harbi hanya menjawab,

”ALLAHU-AKBAR!" sambil terus berlari.
Melihat pemimpin mereka berlari, akhirnya mujahidin lainnya ikut berlari menyerbu bunker tersebut. Al-Harbi akhirnya berhasil mendekati pintu masuk bunker Serbia dan hanya berjarak dua meter dari dua orang Serbia di dalamnya. Mereka menembaki Al-Harbi dan  ia pun menembaki mereka. Saat ia berhasil menewaskan salah satu tentara Serbia, seorang tentara lainnya menembak Al-Harbi di keningnya dan ia pun gugur syahid.
Keesokan harinya, salah satu mujahidin melihat Al-Harbi dalam sebuah mimpi. Wajahnya tampak sangat putih dan bercahaya. Mujahid itu bertanya padanya :

"Apa yang terjadi padamu?"

Al-Harbi menjawab,

"Pada malam sebelum penyerangan, kami semua berada di sebuah bunker di gunung. Saat itu saya tertidur dan kemudian saya berada dalam keadaan junub. Saat saya bangun, saya sadar bahwa tidak mungkin saya mandi wajib saat itu, jadi saya melakukan operasi tersebut dalam keadaan junub."
Al-Harbi tahu bahwa dalam situasi ini, ia dapat melakukan tayammum, dan kemudian melakukan shalat, karena jihad lebih penting daripada turun gunung untuk mandi wajib. Bahkan ia adalah komandan (amir) kelompok itu, tidak mungkin ia menunda operasi itu hanya agar ia dapat melakukan mandi wajib.
"Saat saya mendekati bunker Serbia itu dan menembaki orang-orang di dalamnya, saya merasa ada sesuatu yang menempel pada kening saya, kemudian tiba-tiba saya merasa ada dua sosok yang memegang ketiakku dan mengangkatku dengan cepat sekali naik ke langit, kemudian para malaikat memandikan saya.”
Kejadian ini serupa dengan kejadian yang terjadi pada sahabat Rasulullah SAW, Hanzhalah ra, yang syahid dalam pertempuran sebelum ia dapat melakukan mandi wajib satu hari setelah malam pengantin. Rasululllah SAW mengatakan bahwa para malaikatlah yang memandikan Hanzhalah.

 

 ****

Read 1974 times Last modified on Thursday, 15 August 2013 02:38

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.