Kaki Serasa Disambar Api Di Masjidil Haram

22 May

Kaki Serasa Disambar Api Di Masjidil Haram

(1 Vote)

Dua kisah yang akan saya ceritakan ini agak aneh. Kisah pertama mengenai seorang jemaah bernama Mansor berusia 30-an yang sebaya dengan saya. Mansor bekerja di Brunei dan bergaji besar. Ini terjadi ketika saya menjadi mutawif membawa jemaah umrah ke Tanah Suci pada tahun 1992.  Ketika itu, saya bertugas di sebuah agensi haji & umrah di Brunei. Waktu ibadah umrah pada bulan Desember dalam keadaan tidak terlalu panas dan kami berada di Tanah Suci selama sembilan hari.

 

Selama berada di Mekah, saya melihat ada keanehan dengan cara Mansor berjalan ketika memasuki kawasan Masjidilharam. Kenapa saya katakan ganjil, karena saya lihat Mansor berjalan di lantai Masjid dengan berjingkat-jingkat. Lucu juga bila saya lihat keadaan Mansor. Bila telapak kakinya menempel di lantai, cepat-cepat dia angkat kembali. Bayangkan, gaya Mansor berjalan ketika itu seperti sedang berjalan di atas kaca atau duri. Takut betul Mansor hendak menginjak lantai marmer Masjidilharam. Ada kalanya saya lihat setelah Mansor berjalan beberapa langkah, dia kemudian berhenti dan menggosok-gosok telapak kakinya. Aneh banget Mansor ini. Tapi saya berpikiran mungkin saja kaki Mansor sakit. Saya pun malas bertanya lebih lanjut. Saya biarkan Mansor berjalan sendirian sebab saya kebetulan banyak hal yang harus dilakukan, termasuk ada jemaah yang sudah tua yang perlu diberi perhatian. Sesaat setelah tiba di hadapan Kabah, saya tergelitik lagi dengan aksinya Mansor. Belum hilang keheranan saya dengan cara Mansor berjalan, Tiba-tiba, saya lihat Mansor membuka kain ihram bagian atas yang dipakainya, kemudian dibentangkan di atas lantai. Setelah itu barulah Mansor berjalan selangkah demi selangkah di atas kain ihram itu. Saya lihat kain ihram itu dibuatnya alas kaki setiap kali mau bergerak maju ke depan. Itulah cara yang dilakukan Mansor berulang kali. Saya benar-benar merasa heran, Kenapa Mansor berbuat begitu?

Kalau mau dikatakan cuaca panas, saat itu cuaca ketika sedang sejuk. Bisa dikatakan bila menginjak lantai Masjidilharam kaki kita merasakan sejuk meresap ke telapak kaki, meskipun tidak dingin banget. Tapi terasalah sejuknya. Saya dan jemaah lain tidak merasakan masalah apa-apa ketika menginjakkan kaki di lantai. Bahkan, kami merasa lebih nyaman karena cuaca tidak panas. Pada saat mau melakukan tawaf, sekali lagi saya lihat tingkah yang aneh dari Mansor. Kali ini bukan lagi berjingkat atau dialasi kakinya, tapi saya lihat Mansor berlari mengelilingi Kabah seperti kuda yang dilecut. Saya tertawa. Lucu benar si Mansor ini. Tadi berjalan berjingkat-jingkat, sekarang pada saat tawaf malah berlari. Setelah berlari beberapa meter, Mansor berhenti. Pada saat berhenti itu saya lihat satu lagi aksi mengherankan dari Mansor. Tiba-tiba kain ihram yang dipegangnya dicampakkan ke ke lantai. Setelah itu diinjak-injaknya seperti keset. Selesai menginjak-nginjak kain ihram dia menggosok-gosok kedua telapak kakinya. Hal itulah yang dilakukan Mansor sampai proses tawaf selesai.

Saya menggeleng-gelengkan kepala. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya telah terjadi dengan Mansor? Saya berpikir pastilah ada sesuatu yang tidak beres dengan Mansor. Kalaupun tidak, masak sampai sebegitu aneh kelakuanya. Lalu saya menghampiri dan bertanyakan ada masalah apa. Kenapa berjalan terjingkat-jingkat dan menginjak-menginjak kain ihram? Saya pun berkata kepada Mansor, sebagai orang yang bertanggungjwab terhadap jemaah, saya berhak tahu apa yang terjadi kepadanya.

Setelah didesak, barulah Mansor mau ngomong kepada saya. Mansor memberitahu setiap kali telapak kakinya menginjak lantai Masjidilharam dia merasa begitu panas. “Bila menginjakkan telapak kaki ke lantai saya merasa seperti berjalan diatas bara, panas, pedih dan sakit!” kata Mansor.

Saya terkejut. Aneh juga apa yang dirasakan Mansor. Mana mungkin dalam keadaan cuaca sejuk begini, lantai Masjidilharam terasa panas. Lagipula saya dan jemaah lain tidak merasakan begitu. “Betul bang. Demi Allah, saya tidak bisa menginjak lantai Masjidilharam. Sebab itulah saya buka kain ihram buat alas kaki. Rasa panasnya seperti ada api bawah lantai. Panasnya terasa membara naik ke atas!” ujar Mansor serius.

Saya langsung termenung. Kejadian ini memang aneh. Sampai di kamar hotel, saya mencari tahu apa yang dilakukan Mansor sebelum berangkat ke Mekah. Akhirnya saya dapat juga jawabannya Seminggu sebelum keberangkatan ke Tanah Suci, Mansor pergi ke tempat hiburan semacam diskotik dan pub sampai puas. Konon katanya karena dia hendak bertaubat di Mekah, maka dia puas-puasin dulu di tempat-tempat seperti itu. Setelah kembali dari Mekah dia toh dia tidak akan menginjakkan kaki lagi di tempat-tempat maksiat itu.

Saya beristighfar beberapa kali setelah mendengar pengakuan dari Mansur sendiri tentang apa yang dilakukannya sebelum berangkat ke Mekah. Pantaslah begitu, bila menginjak lantai Masjidilharam, terasa seperti menginjak bara api. Bagaimana tidak, sebelum ke Mekah dia menginjakkan kaki di tempat-tempat maksiat itu. Kan seharusnya sebelum pergi ke Mekah, Mansor isi waktunya dengan amal ibadah dan mempersiapkan diri dengan ilmu agama.

Dan apa yang terjadi mungkin balasan yang tak seberapa dari Allah SWT buat Mansor. Malah Mansor sendiri mengakui di depan saya, mungkin perbuatannya yang asyik pergi ke disko sebelum ke Mekah itu yang membuat dia diberikan balasan di Mekah. Bila kakinya menginjak lantai Masjidilharam terasa bagai disambar api. Lagi pula, sebelumnya, saya pemah dengar cerita, jika orang-rang Arab yang tinggal di Mekah melancong ke luar negara seperti Thailand dan pergi ke tempat-tempat maksiat, biasanya pada saat balik mereka tidak langsung masuk ke Masjidilharam. Mereka tinggal terlebih dahulu di Madinah sampai 40 hari, beramal ibadah dan bertaubat. Mungkin orang-orang Arab ini takut mengalami kejadian yang tidak terduga menimpa mereka. Lagipun Tanah Suci Mekah ini bukan tempat untuk main-main. Allah menjadikannya tanah yang suci dan penuh berkah. Kejadian yang menimpa Mansor selayaknya menjadi iktibar bagi kita semua.

Jari Jemaah Menempel di Botol Air Zamzam

Kisah kedua yang ingin ceritakan ini juga agak aneh. Kejadian ini melibatkan seorang jemaah lelaki dari Singapura pada tahun 1989. Dua hari sebelum pulang ke tanah air, jemaah lelaki ini, mengisi air zamzam ke dalam satu jerigen besar ukuran 10 liter. Apabila ditanya, jemaah ini menjelaskan bahwa air zamzam itu hendak dibawa pulang ke Singapura karena ada pesanan saudara-saudara dan para sahabatnya.

“Kalau bukan inget karena pesanan orang, saya malas membawanya ke Singapura,” katanya merengut. Setelah mengisi jerigen itu penuh dengan air zamzam, jemaah ini mengangkat sendiri jerigennya dan kembali ke hotel. Sampai di hotel dia pun meletakkan air zamzamnya. Malangnya ada sesuatu yang mengejutkan terjadi, jari tangannya yang memegang tangkai jerigen itu tak bisa lepas. Benar-benar aneh! Tangannya tetap menempel di jerigen air zamzam itu. Padahal berkali-kali dia coba melepaskan, tetap aja tangannya memegang erat tangkai jerigen itu.

Kejadian aneh ini disaksikan oleh para jemaah lain. Seorang sahabat mencoba membantu jemaah ini dengan menarik jari-jarinya supaya terlepas dari tangkai jerigen. Berkali-kali dicoba tapi tangannya tidak mau terbuka atau terlepas. Tidak lama setelah itu ada seorang jemaah memberitahu seorang ustadz mengenai keluhan yang didengarnya dari jemaah tadi ketika sedang mengisi air zamzam ke dalam jerigen. Jemaah ini memberitahu ustadz bahwa jemaah tadi isi air zamzam tidak ikhlas. Apabila ditanya, jemaah ini mengaku dia ambil air zamzam sebab terpaksa sebab ada orang pesan.

Berkeringat juga jemaah ini berusaha melepaskan jari tangannya, sebelum akhirnya ustadz membaca doa dan menyiramkan air zamzam ke tangannya. Setelah disiram air zamzam oleh ustadz tadi, barulah tangan jemaah ini terbuka dan akhirnya terlepas dari tangkai jerigen. Semua jemaah merasa lega. Jemaah ini disuruh oleh ustadz tadi untuk sholat sunat taubat dan menyesali segala perbuatan dan kata-katanya tadi. Bagi saya, apabila kita berada di Mekah, kelakuan, perkataan dan kesopanan harus kita jaga. Sebab itulah, sebelum ke Mekah saya selalu berpesan, persiapkanlah diri sebaik mungkin dengan ilmu agama. Jangan sampai mengundang terjadinya kejadian aneh. Bagi saya segala kejadian yang terjadi ini merupakan salah satu pertanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. buat hamba-hamba-Nya yang berakal dan mau berfikir.

 

Diceritakan oleh Ustaz Khairul Azmy Rahman kepada wartawan Mastika, Kairul Anwar Yusop).

Sumber Majalah Mastika. Februari 2011.

Read 14087 times Last modified on Tuesday, 11 June 2013 12:13

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.