Inikah Balasanmu Terhadap Ibu!

17 Apr

Inikah Balasanmu Terhadap Ibu!

(4 votes)

Beberapa hari selepas kami sampai di kota Mekah, saya mendengar cerita-cerita dari jemaah yang saya bawa tentang hubungan dingin antara seorang ibu dengan anak lelakinya dan menantunya. Si ibu berusia 60-an sementara anak dan menantunya berusia sekitar 30-an akhir. Mereka bertiga menjadi bagian diantara sekian ratus jemaah yang saya bawa untuk menunaikan ibadah haji beberapa tahun lalu.

Rupanya hubungan dingin itu sudah terjadi sejak di Malaysia, akibat si Ibu kurang senang dengan perangai menantunya yang sombong dan menguasai suami. Karena hidup dalam kemewahan, menantunya itu tidak menghormati Ibu mertuanya sebagaimana selayaknya sikap seorang menantu, apalagi memperlakukannya seperti ibunya sendiri.

Hal lain yang membuat si Ibu mertua itu benar-benar kecewa ialah meskipun anaknya itu sangat pintar berbisnis, tetapi apabila berhadapan dengan isteri, dia jarang membantah, apa lagi mendebat. Apa saja keinginan isterinya diturutinya walaupun kadangkala menyinggung perasaan ibu dan keluarganya.

Walaupun telah bertahun-tahun menjalani perkawinan, Ibu mertua tersebut sering kesal karena anak dan menantunya itu sangat jarang pulang kampung untuk menengoknya. Boro-boro mau tidur disana, kalaupun singgah, menantunya tidak mau berlama-lama di rumahnya. Berbagai alasan dicari supaya mereka cepat pulang.

Si ibu tadi telah menasihati anaknya supaya menegur sikap buruk isterinya itu, tetapi ia seperti tidak mampu berbuat apa-apa. Menantunya terus bersikap congkak dan sombong. Si ibu juga mengingatkan anaknya jangan terlalu menuruti kehendak isteri, namun anaknya itu tetap menuruti telunjuk isterinya.

Saya maklum juga, si Ibu tersebut berkecil hati karena menantunya tidak senang dengan kehadirannya di Mekah. Sebenarnya dia inginnya pergi ke tanah suci bersama suaminya saja tetapi kerana suaminya bersikeras hendak membawa ibunya, sekali ini dia terpaksa mengalah, namun tetap menunjukan wajah tidak suka dan mengeluarkan kata-kata sinis serta sindiran tajam. Karena itulah sejak sampai ke Madinah dan Mekah hubungan saling diam ini menjadi semakin parah.

Karena mereka tinggal sekamar, si anak dapat melihat sendiri di depan matanya hubungan buruk antara ibunya dengan isterinya. Pada mulanya dia pura-pura tidak tahu karena kedua-duanya orang yang dia sayangi. Lagipula dialah yang membiayai semua biaya perjalanan mereka bertiga untuk ke Mekah.

Tetapi semakin hari perselisihan tersebut semakin parah. Hubungan ibu lelaki tadi dengan isterinya semakin buruk. Bukan sekali dua kali mereka bersitegang. Si ibu yang telah agak lanjut usianya pastilah punya perasaan ingin dihormati dan dilayani. Tetapi menantunya sangatlah sombong dan tidak sabaran. Dia tidak suka melayani kehendak mentuanya itu yang menurutnya sangatlah cerewet.

Akibat perselisihan tersebut, mereka tidak saling bertegur sapa dan si ibu pula enggan memakan makanan yang dimasak oleh menantunya itu. Ini menyebabkan si anak lelakinya terpaksa membeli makanan diluar untuk ibunya.

"Bagaimana istrimu itu Man, Ibu mertuanya pun tak dihormatinya. Ibu minta tolong sedikit dia ngomel. Ibu pengen begini, pengen begitu, dia tak peduli," sunggut si ibu kepada anaknya.

"Abang coba liat Ibu abang itu, cerewet banget. Pengen itulah, pengen inilah, macam-macam. Saya sudah bilang waktu itu jangan bawa Ibu, abang tetap aja bawa juga. Nah...sekarang bagaimana?" kata si menantu dengan suara yang kasar kepada suaminya.

Baik istrinya maupun Ibunya, kedua-duanya memberikan alasan masing-masing hingga si anak merasa sangat tertekan. Hendak dimenangkan ibunya, khawatir isteri marah. Hendak dimenangkan isterinya, khawatir ibunya merasa sakit hati. Akhirnya yang bisa dia lakukan adalah pura pura tidak mendengar dan pura-pura tidak melihat pertengkaran tersebut.

Permasalahan mereka bertiga terbawa-bawa keluar. Apabila mereka berjalan, duduk di meja makan atau di tempat lain, masing-masing sendiri-sendiri. Akhirnya masalah itu mulai tercium oleh jemaah-jemaah lain. Mereka mulai menjadi perhatian. Begitu juga saya. Berbagai cerita saya dengar tentang mereka. Setelah lama bersitegang, si anak sedikit demi sedikit memihak isterinya. Bagi lelaki itu, ibunya yang bersalah kerana terlalu banyak meminta, cerewet dan terlalu ambil hati.

"Kalau orang tua, ya begitulah Yang," kata lelaki itu membujuk isterinya.

Suatu hari, si ibu memanggil anaknya."Man, boleh ngak kau belikan sajadah untuk Ibu? Di toko yang di bawah itu saja,"katanya.

"Berapa banyak Bu?" tanya anaknya.

"10 helai saja."

"Eh, buat apa banyak-banyak?"soal si anak lagi.

"Yaaah....buat kenang-kenangan aja, selebihnya mau Ibu kasih ke kawan-kawan dan orang kampung. Kalau dapat pahala, kau juga sama dapat pahala," kata si ibu dengan tersenyum.

Mendengar permintaan mertuanya itu, wajah isteri si anak langsung merengut. Matanya menatap tajam wajah suaminya sebagai isyarat "jangan!" Kemudian mukanya ditolehkan ke arah lain. Ujung-ujungnya si anak yang pada mulanya mau menuruti permintaan ibunya, kembali ke tempat duduk.

"Aduh saya gak bisa Bu, sedang capek. Nantilah kalau sudah mau pulang saya belikan," jawab si anak.

Tetapi kata-kata itu menyebabkan ibunya sakit hati. Dia sangat kecewa anak kesayangannya itu sanggup menolak permintaannya, dan malah sebaliknya menuruti saja apa kemauan isterinya. Lantas dia berkata,

"Kau ini bagaimana Man, Ibu hanya minta barang segitupun tidak kau beri. Tapi kalau orang rumah, sudah penuh pun kopernya pun kau tetap mau belikan barang lagi. Ibu ini hanya minta kau belikan sedikit aja. Sampai hati kau Man."

Seharusnya kata-kata ibunya tadi diterima sebagai nasihat untuk keinsafan tetapi tanpa disangka anaknya itu makah naik pitam. Dengan suara tinggi, dia memarahi ibunya.

"Ibu ini! Emang mau diapakan barang-barang itu? Ibu kan sudah tua, buat apa pengen beli ini beli itu. Wajar kalau isteri saya beliin macam-macam, sampai kopernya penuh. Saya punya anak. Jadi saya belikan barang-barang untuk anak kami juga!"   katanya dengan muka masama. Dadanya turun naik menahan marah. Isterinya pula tersenyum puas.

Si ibu terkejut, lantas berkata, "Sampai hati kau berkata begitu kepada ibu. Aku ini Ibumu, ngak bisa sembarangan kau hardik atau kau teriaki. Kalau sayang bini pun janganlah sampai ibu sendiri engkau sisihkan sambil marah-marah," katanya dengan kecewa. Si anak bertambah berang."Ibu itu sudah tua, bersikaplah seperti orang tua! Jangan pengennya minta ini minta itu!"

Ibunya makin sakit hati. Hatinya begitu hancur mengetahui anak yang dipeliharanya sejak kecil dengan penuh kasih sayang sanggup menghardiknya sebegitu rupa. Tindakan anaknya yang sudah melampau batas itu menyebabkan si ibu marah.

Sambil menatap tajam wajah anaknya, si ibu berkata, "Man, Aku ini Ibumu. Aku yang melahirkan engkau. Emangnya isterimu yang melahirkan engkau? Emang istrimu yang membesarkan engkau?

"Ingat Man, Ibu sudah bersusah payah menjaga engkau, mencari uang untuk membesarkan engkau, menyekolahkan sampai kau sukses sekarang. Ternyata setelah sukses engkau berbuat begitu sama Ibu. Isterimu engkau lebihkan daripada ibu engkau sendiri. Dengan isteri kau berbicara dengan lemah lembut, tapi dengan ibu kau sendiri malah teriak-teriak."

Dan dengan suara tegas si ibu tadi menyambung, "Kalau begini sikap engkau Man, mulai hari ini Ibu haramkan susu ibu yang dulunya kau minum!"

Takdir Allah, serentak dengan kata-kata si ibu tadi, anaknya langsung jatuh tergeletak ke lantai. Bagai disambar petir, kata-kata tersebut seolah-olah langsung "membunuh" si anak tadi secara tiba-tiba. Begitu cepat balasan Allah kepada hamba-Nya. Tanpa menoleh sedikitpun kepada anaknya yang terbaring di lantai, si ibu tadi bergegas keluar dari kamarnya. Sambil berjalan dia terus menyusut air matanya yang jatuh dengan lengan bajunya. Dia tidak menoleh ke belakang lagi. Sementara itu si anak pula terkulai dengan mata terbelalak. Badannya lemah dan lemas. Isterinya pula menangis tersedu-sedu.

Sejak saat itu kesehatan si anak mulai terganggu. Badannya seperti sedang sakit, namun apabila diperiksa, dokter gagal mendiagnosa apa penyakitnya. Tetapi, bala yang menimpanya itu masih belum mampu menyadarkan si anak tadi. Dia dan isterinya tetap enggan bertegur sapa dengan ibunya. Apa yang telah menimpanya langsung tidak diambil iktibar. Bagi anak itu, apa yang terjadi bukanlah balasan Allah dan tubuhnya tidak sembuh-sembuh juga bukan satu petunjuk daripada Allah tentang kesalahannya. Itu cuma kebetulan, pikirnya. Tinggallah si ibu tadi memendam perasaan kesal dan kecewa. Biarpun sekamar dia diasingkan oleh anak dan menantunya sendiri. Makanan dan minuman terpaksa dia membelinya di luar. Baik sedang di kamar maupun di luar, dia lebih banyak termenung dan menangis. Jika jemaah lain bertanya mengapa, atau di mana anak dan menantunya, wanita tersebut tidak menjawab. Sebaliknya terus menangis dan menangis.

Anak yang durhaka tidak akan terhindar dari balasan Allah. Kesehatan si anak tadi semakin memburuk. Badan dan kakinya lemah hingga dia tidak kuat untuk berdiri sendiri. Akibatnya si anak itu terpaksa dipapah dan ditandu sewaktu menjalankan ibadah wukuf, sai, melontar jamrah, tawaf dan sebagainya. Badannya benar-benar tak mampu untuk melakukan ibadah-ibadah tersebut.

Sementara itu, karena tidak ada lagi tempat bergantung, si ibu tadi menunaikan haji bersama-sama kami, dengan bantuan dan pertolongan kami, bukan oleh anak dan menantunya. Masing-masing menjauhkan diri dan tidak bertegur sapa seolah-olah tidak kenal antara satu sama lain. Suatu hari saya menemui wanita tersebut.

"Mak Haji...sudahlah. Maafkanlah anak mak itu. Yang sudah lewat sudahlah, toh dia juga sudah terima balasannya," kata saya.

Wanita itu hanya diam saja. Dia menangis dan menyeka air matanya yang menetes. Saya juga terus menasehatinya, biar hatinya luluh. Tapi seperti tadi, wanita itu hanya diam tidak menjawab barang sepatah kata pun. Sebaliknya, dia hanya menangis. Dari raut wajahnya, terlihat dia benar-benar kesal dengan sikap anak dan menantunya sampai-sampai dia tidak sanggup lagi berkata-kata tentang mereka.

Selepas itu saya menemui anaknya juga. Lelaki tersebut seperti tidak sadar apa yang sedang menimpa dirinya dan tidak tahu juga apa yang harus diperbuat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Isterinya juga cuma memonyongkan bibir bila saya sebut nama mertuanya. Begitulah keadaan mereka hingga selesai musim haji dan kembali ke Malaysia. Sejak itu saya tidak pernah menghubungi mereka lagi. Khabar yang saya terima memang mengejutkan. Saya diberitahu, sejak pulang si anak tadi terus-menerus sakit. Penyakitnya dianggap kronis dan gagal diobati dokter.

Namun dalam tempo periode tersebut, hubungan mereka tiga beranak tetap tidak berubah. Anak yang telah mendapat balasan Allah juga masih tidak insaf dengan kesalahannya. Ibunya juga sudah terlanjur sakit hati dengan sikap anaknya, tetap enggan memaafkannya.

Sejak kembali dari Mekah, mereka sudah tidak mengunjungi satu sama lain. Berita terakhir saya terima ialah anak lelaki tersebut telah meninggal dunia selepas menderita sakit selama 10 tahun.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. [QS 17 (Al-Israa') : 23-24].

Diriwayatkan oleh Hakim, sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda:

"Semua dosa akan ditangguhkan oleh Allah sampai hari kiamat nanti apa saja yang Dia kehendaki kecuali durhaka kepada orang tua, maka sesungguhnya Allah akan menyegerakan kepada pelakunya dalam hidupnya sebelum meninggal dunia."

Wallahualam bissawab.

 

 

Diceritakan oleh Ustaz Mohamad Din Yusoh

 

 

Read 9280 times Last modified on Saturday, 11 May 2013 13:36

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.