Dibayar Kontan

26 Jan

Dibayar Kontan

(0 votes)

Hari itu uang belanja di laci lemari tinggal lima ratus ribu, sementara di dompet hanya tersisa 2 lembar sepuluh ribuan. Kuhitung tanggal gajian, masih 14 hari lagi, sedangkan beberapa pengeluaran rutin belum sempat terbayarkan. Tagihan telepon dan bayaran les anak-anak saja mencapai tiga ratus ribuan, artinya cuma tersisa dua ratus ribuan untuk belanja sayuran. Belum lagi gas yang biasanya habis sekitar tanggal 25.

Baru saja menghitung-hitung pengeluaran, sejam kemudian tetanggaku datang dan disertai isak tangis. Dia bercerita bahwa adiknya harus segera masuk rumah sakit untuk operasi rahang. Sebagai kakak, dia ingin membantu, tetapi saat itu tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai operasi adiknya. Kedatangannya dimaksudkan untuk meminjam dulu uang dariku dan membayarnya segera setelah dia mendapatkan uang sebagai penggantinya.

Entah kenapa, dengan begitu saja kuambil uang dilaci dan kuberikan semuanya. Berharap uang itu bisa lebih bermanfaat dan paling tidak menghentikan isak tangisnya. Kupikir, mungkin nanti aku bisa mengajukan pinjaman ke koperasi di kantorku untuk menutup sisa pengeluaran bulan ini, sementara tetanggaku mungkin sudah sangat putus asa dan berharap mendapatkan uang itu dariku.

Ucapan terima kasihnya kudengar berulang-ulang dinyatakan, nyaris seperti lagu saja. Airmatanya justru semakin membanjir ketika kuulurkan uang itu padanya. Alhamdulillah, ada ladang yang bisa kugarap lagi, demikian kata hatiku.

Sepulangnya dia dari rumah, sempat terpikir bagaimana dengan uang belanja yang harus kutinggalkan di rumah sebelum aku berangkat kerja esok hari. Kuperiksa isi lemari es dan kutemukan masih banyak sayuran dan beberapa lauk yang tersimpan, Alhamdulillah.

Pengajuan pinjaman ke koperasi kadang membutuhkan waktu satu hari untuk proses, artinya lusa baru bisa kunikmati uang pinjaman itu. Tidak kujadikan masalah karena tanggal pembayaran tagihan-tagihan tak akan ada yang melebihi jatuh tempo sehingga tidak akan terkena denda.

Paginya aku berangkat dari rumah mengendarai ojek sampai ke jalan besar, di sana sudah menanti teman yang akan bersama-sama berangkat ke kantor dengan mobilnya. Beruntungnya aku mempunyai tumpangan gratis sehingga bisa menghemat ongkos yang cukup lumayan, semoga saja dia tidak bosan kutumpangi. Dalam perjalanan kusampaikan rencana mengajukan pinjaman ke koperasi yang memang diketuai olehnya. Alhamdulillah dia menyetujui karena memang aku tak punya tunggakan pinjaman.

Siang hari seusai shalat dzuhur, aku mulai melahap makanan yang tersedia di atas meja. Terasa nikmat, terlebih disaat lapar seperti ini. Tiba-tiba suara telepon di meja kerjaku berbunyi. Kulirik jam di dinding, masih waktu istirahat. Rasa malas mengangkat telepon karena sedang makan segera hilang manakala teringat tak baik jika mengabaikan sesama dan siapa pun di seberang sana yang jelas berharap ada seseorang yang mengangkat telepon itu. Kutarik secarik tisu untuk menghindari gagang telepon menjadi kotor terkena makanan dan segera kuangkat berharap dia tidak menutup teleponnya karena terlalu lama tak diangkat.

"Assalamua'alaikum..." ucapku.

"Wa'alaikumussalam... Apa kabar?" suara di seberang sana.

"Alhamdulillah baik, mau cari siapa ya?" jawabku.

"Wah, ya cari dirimu lah." suaranya menggoda dan seperti kukenali.

Beberapa saat aku terdiam dan sepertinya seseorang di ujung sana pun menanti reaksiku. Tak berapa lama ingatan mengalir.

"Eni, ya? Apa kabar?" aku sedikit berteriak, rasa senang tiba-tiba menyeruak begitu saja. Sudah dua tahun kami tidak saling bertukar sapa walau kami berada dalam kota yang sama. Kesibukan tugas belajar telah menyita perhatianku dua tahun belakangan ini, dan sepertinya Eni pun tenggelam dengan kesibukan di tempat barunya.

"Iya, kukira kamu lupa. Maaf ya aku lama tidak menghubungi kamu. Kudengar kamu mengambil cuti untuk tugas belajar dan belakangan aku baru tahu kalau kamu sudah dua bulan ini kembali bekerja, makanya aku telepon kamu ke kantor."

"Ah, gak apa-apa. Yang penting kamu sehat-sehat aja kan? Gimana kerjaan baru kamu? Cerita dong!"

"Semua baik-baik aja, ntar deh aku cerita kalo kita ketemu. Sekarang aku ada pertemuan, tapi aku butuh banget nomer rekening kamu. Maafin aku ya, baru bisa bayar hutang sekarang. Aku hampir terlupa. Semalam waktu membereskan berkas-berkas kerja di laci, aku menemukan catatan pengingat bahwa aku berhutang padamu sejuta untuk modal ibu berjualan waktu itu. Jangan marah ya..." suaranya yang merajuk selalu bisa meluluhkan hatiku, temanku yang satu ini memang agak manja. Di antara 4 sahabat wanitaku, dialah yang paling kekanakan dan aku selalu menyukai itu. Dialah yang mengajakku pertama kali mengenakan jilbab walau gagasannya itu kumentahkan dan baru setahun kemudian aku memakainya.

"Subhanallah, aku ga inget kamu punya hutang! Alhamdulillah, hari ini kamu memberi saya rejeki yang tidak disangka-sangka. Kamu tau ga? Aku lagi butuh banget uang untuk bayar tagihan, dan kamu seperti malaikat yang diutus Allah datang menghampiriku dengan segepok uang. Waduh, dua kali surprise yang kamu berikan."

Suara tawa di ujung telepon sana malah membuatku ingin menangis. Bila Eni ada di hadapanku, mungkin sudah kucubit dan kupeluk ia kuat-kuat. Dia tidak tahu, getaran hebat yang ada di hati dan pikiranku. Allah membalas kontan pinjaman uang yang kuberikan pada tetanggaku semalam, berikut dengan bunganya! Kupinjamkan uang lima ratus ribu rupiah, dan hari ini kudapat uang sejuta berikut teman lama yang tak kudengar lagi suaranya. Aku tak bisa berkata-kata lagi selain ucapan Alhamdulillah.

 

Penulis : Rinna Fridiana.

 

Read 1827 times Last modified on Saturday, 04 May 2013 03:29

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.