Berniaga Dengan Allah

31 Mar

Berniaga Dengan Allah

(0 votes)

Sosok yang kuceritakan ini adalah guru kami, sahabat kami, dan anak-anakku memanggilnya Pakde Koko. Selalu ada cerita-cerita baru yang asik untuk didengarkan. Kadang ada tawa karena cerita jenakanya…tapi juga kadang kami terdiam lamaa…lidah serasa kelu untuk berkata-kata…Ada banyak hikmah dan cinta dari cerita-ceritanya…dan tentu nyentrik yang jadi trademark-nya.

Suatu hari dia dapat undangan dari guru sekolah anak pertamanya yang duduk di bangku SMA untuk mengambil raport kenaikan kelasnya. Dalam undangan itu terselip ‘surat cinta’ dari bagian administrasi tentang pembayaran uang daftar ulang sebesar kurang lebih satu juta seratus ribu rupiah, dan harus terbayar pada saat pengambilan raport kenaikan kelas tersebut.

“Coba tanyakan ke sekolah bisa diangsur nggak?,” tanyanya pada anaknya.

Esoknya ketika pulang dari sekolah, anaknya bilang bahwa pembayaran daftar ulang tersebut dapat diangsur semampunya selama satu tahun. Keringanan ini didapat karena anaknya termasuk aktivis jilbaber yang berprestasi disekolah. Akhirnya dia memberi uang sebesar 200 ribu untuk pembayaran dengan dicicil.

Tibalah Hari H penerimaan raport, ia dan anaknya datang ke sekolah untuk mengambil raport. Sang anak disuruh membayar dan meminta kwitansi karena khawatir nanti masih ditanyakan pada saat dia mengambil raport, sementara ia tak punya bukti pembayaran. Sedangkan ia menuju kelas untuk menerima pembagian raport. Sang anak yang menuju kantor administrasi segera menemui bagian kasir untuk membayar biaya daftar ulang. Ternyata disana ia sudah ditunggu oleh bagian kasir, dan kurang lebih dialognya seperti ini,:

“Oh ya ini kwitansi pelunasanmu Nak, kemaren kenapa kamu kok tergesa-gesa, sampai lupa nggak terbawa kwitansimu.” Kata kasir.

Si anak bengong sejenak, dengan setengah menggumam ia bertanya, “Kwitansi pelunasan? Atas nama saya?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

“Iya..!! Kemaren kan ibumu yang cantik itu melunasi kesini sambil menggendong adikmu, malah dianter bapakmu tapi ditunggu diluar, sudah tolong ini diterima kwitansi pelunasanmu, hati-hati jangan sampai hilang!”kata kasir.

“Tapi saya merasa belum membayarnya, Bu?” terangnya.

“Coba tanyakan ibumu dulu, tapi yang jelas uang sekolahmu ini sudah lunas, mungkin ibumu lupa ngasih tahu kamu.”

Petugas di kasir juga tidak kalah ngotot.

Dengan penuh tanda tanya dan tangan gemetar ia terima kwitansi pelunasan tersebut. Sejurus kemudian ia dengan setengah berlari menemui Abahnya yang masih menungguinya. “Gimana? Sudah dibayar?” tanya Abahnya.

Dan dengan bibir masih gemetar karena penuh tanda tanya, ia berkata pada Abahnya, “Abah, biaya daftar ulang sudah dilunasi, kata bagian kasir ibu yang bayar.” katanya.

Si Abah mengernyitkan dahi…diam sejenak…”Kamu sudah tanya tidak ada kekeliruan?”, tanyanya.

“Nggak Bah, tapi apa bener ibu sudah membayarnya?”, tanyanya penasaran.

Dia tahu saat ini orangtuanya sedang tidak punya kelebihan uang karena daftar ulangnya berbarengan dengan si adik nomor tiga masuk SD. Akhirnya setelah mengambil raport, mereka bergegas pulang dan menanyakan kejadian itu pada istrinya.

”Lha aku dapat uang dari mana buat nglunasi biaya itu?” tanyanya tak kalah heran.

“Kamu yakin Nak, nggak ada kekeliruan?” tanya Ibunya.

“Tadi saya sudah jelaskan bahwa saya merasa belum membayar, tapi petugas kasirnya tetep ngotot dan memberi kwitansi pelunasan ini, dan kulihat memang atas nama saya.” terang anaknya.

Akhirnya si Abah tersenyum arif sambil berkata , “Baiklah nanti coba kita klarifikasi lagi, namun satu hal yang patut kita yakini, jika Allah sudah berkehendak, apa yang tidak mungkin di dunia ini.

Dan ketika ia bercerita pada kami, versinya begini :

Malam sebelum hari H penerimaan raport, sesungguhnya hatinya sangat gelisah, karena memang hanya ada uang 200 ribu, itupun sebenarnya untuk uang belanja selama sebulan. Sebenarnya keyakinan akan pertolongan Allah itu tak pernah hilang dari hatinya. Hanya apakah kemudian ia akan diam saja menunggu pertolongan Allah jatuh dari langit? Tentu saja tidak! Akhirnya dengan perasaan yang berkecamuk ia relakan uang belanja untuk keperluan daftar ulang anaknya. Untuk makan, entah bagaimana nanti. Ia dan istri tegakkan sholat malam mohon pertolongan Allah, mohon dimudahkan urusannya, dan mohon ridho Allah. Dan kejadian esoknya seperti yang saya ceritakan diatas.

Pesan yang ingin ia sampaikan diakhir ceritanya adalah, Allah ingin menguji seberapa tawakalnya kita akan ujian Allah.

Benarkah kita mau menjalankan perniagaan denganNya? Benarkah kita mau menukarkan harta , benda, bahkan jiwa hanya untuk ridhoNya? Allah menyukai bukti cinta, bukan sekedar pernyataan mulut penuh busa. Itulah bisikan hatinya ketika ia harus merelakan uang untuk belanja istrinya bulan itu dibayarkan untuk keperluan sekolah anaknya, dan yakin bahwa hidupnya Allah yang menjamin, maka sungguh indah ganti yang Allah berikan, sebagai tanda kerelaan dan keyakinan bahwa janji Allah pasti benar!

“Tentang siapa yang Allah utus untuk membayar, tidak perlu diperpanjang lagi,” katanya, “Itulah janji Allah kepada yang yakin akan pertolonganNya.” Subhanallah…

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS : Al Fathir 29)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?” “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS As Shaff 10-11).

 

Dari sebuah milis.

 

 

Read 2002 times Last modified on Saturday, 04 May 2013 03:48

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.