Azab Koma Di Tanah Suci

26 Jan

Azab Koma Di Tanah Suci

(0 votes)

Selama hampir sembilan tahun menetap di Mekah dan membantu ayah saya mengurus jemaah haji dan umrah, saya mengalami berbagai pengalaman menarik dan unik. Tapi dari banyak peristiwa-peristiwa yang saya temui itu, ada satu kejadian yang tidak bisa saya lupakan sampai kapanpun.

Kejadian ini terjadi pada seorang wanita yang berusia 30 tahunan. Kejadiannya sendiri terjadi pada pertengahan 1980-an waktu saya mengurus satu rombongan haji. Ketika itu umur saya 20 tahun dan masih menuntut di Universitas Al-Azhar, Kaherah.

Kebetulan ketika itu saya baru kembali ke Mekah setelah menghabiskan cuti semester. Saya sendiri menetap di Mekah mulai 1981 selepas menamatkan pengajian di Sekolah Agama Gunung Semanggol, Perak. Keluarga saya memang semuanya di Mekah, cuma saya yang tinggal dengan nenek saya di Perak. Walaupun masih muda, saya diserahi tugas oleh bapak saya, Haji Nasron, untuk mengurus jemaah haji dan umrah dengan pertimbangan saya adalah anak sulung dalam keluarga.

Kembali kepada cerita tadi, pada saat wanita tersebut dan rombongan haji di lapangan terbang Jeddah tiba, kami sambut dengan menyediakan sebuah bis. Semuanya nampak riang sebab saat itu merupakan kali pertama mereka melaksanakan ibadah haji. Saya membawa mereka menaiki bis dan dari situ, kami menuju ke Madinah. Alhamdulillah, segalanya berjalan lancar hingga sampai di Madinah.

Setiba di Madinah, semua orang turun dari bis satu demi satu sampai tiba giliran wanita itu turun. Tiba-tiba tanpa sebab, pas kakinya menjejakkan tanah Madinah, tiba-tiba wanita itu jatuh tidak sadarkan diri. Sebagai penanggungjawab jemaah, saya pun bergegas menuju ke arah wanita tersebut. "Kakak ini sedang sakit…" kata saya pada jemaah-jemaah yang lain.

Suasana yang tadinya tenang berubah jadi cemas. Semua jemaah tampak risau dengan apa yang sedang terjadi. "Badannya panas dan menggigil. Kakak ini pingsan, mari bantu saya...kita bawa dia ke rumah sakit," kata saya.

Tanpa membuang waktu, kami mengangkat wanita tersebut dan membawanya ke rumah sakit Madinah yang terletak tidak jauh dari situ. Sementara itu, jemaah yang lain diantar ke tempat penginapan masing-masing. Sampai di rumah sakit Madinah, wanita itu masih belum sadar. Berbagai-bagai usaha dilakukan oleh dokter untuk memulihkannya, namun semuanya gagal. Sampai sore, wanita itu masih lagi koma.

Sementara itu, tugas mengurus jemaah tetap saya saya teruskan. Saya terpaksa meninggalkan wanita tersebut sendirian di rumah sakit. Namun dalam kesibukan mengurus jemaah, saya menyempatkan diri menghubungi rumah sakit Madinah untuk mengetahui perkembangan wanita tersebut. Tapi saya diberitahu bahwa dia masih tetap belum sadarkan diri.

Setelah dua hari, wanita itu masih juga belum siuman. Saya makin cemas, maklumlah, itu adalah pengalaman pertama saya berhadapan dengan situasi seperti itu. Dengan pertimbangan bahwa usaha untuk memulihkannya semuanya gagal, maka wanita itu dipindahkan ke rumah sakit Abdul Aziz Jeddah untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut sebab pada masa itu rumah sakit di Jeddah lebih lengkap dibanding rumah sakit Madinah. Namun usaha untuk memulihkannya masih saja tidak berhasil.

Jadwal haji mesti diteruskan. Kami bertolak ke Mekah untuk mengerjakan ibadah haji. Setelah selesai, sekali lagi saya pergi ke Jeddah. Malangnya, sampai di rumah sakit King Abdul Aziz, saya diberitahu oleh dokter bahwa wanita tersebut masih dalam keadaan koma.

Meskipun demikian, kata dokter, keadaannya tetap stabil. Mengetahui hal itu, saya ambil keputusan untuk menungguinya di rumah sakit. Setelah dua hari menunggu, akhirnya wanita itu membuka matanya. Dari sudut matanya yang terbuka sedikit itu, dia memandang ke arah saya. Tapi tak lama kemudian tiba-tiba dia memeluk saya dengan erat sambil menangis. Sudah tentu saya terkejut sebab saya bukan muhrimnya. Ditambah lagi kekagetan kenapa dia tiba-tiba menangis.

Saya bertanya kepada wanita tersebut, "Kenapa kakak menangis? "

“Mazlan ...Kakak taubat…Kakak menyesal, kakak takkan lagi menyentuh barang-barang haram. Kakak bertaubat, betul-betul taubat."

"Memang kenapa Kakak, tiba-tiba saja ingin bertaubat?" tanya saya masih terheran-heran. Wanita itu terus menangis terisak-isak tanpa menjawab pertanyaan saya itu. Tak lama kemudian dia bicara lagi, menceritakan kepada saya mengapa dia berkelakuan demikian, cerita yang bagi saya perlu diambil iktibar oleh kita semua.

 Katanya, "Mazlan, kakak ini sudah berumah tangga, kawin dengan lelaki orang putih. Tapi kakak khilap, kakak ini cuma Islam pada nama dan keturunan saja. Tak pernah sekalipun melakukan ibadah. Kakak tidak pernah sembahyang, puasa, dan bersama suami tak pernah melakukan amalan ibadah. Rumah kakak penuh dengan botol arak. Suami kakak itu sering kakak tendang bahkan kakak pukul," katanya sambil tersedu.

"Tapi koq kakak mau pergi haji ?"

"Itu karena...kakak lihat orang lain pergi haji, kakak pun ingin juga pergi."

"Jadi apa penyebab kakak menangis sampai seperti ini. Apa ada sesuatu hal yang kakak alami pada saat sakit?" tanya saya lagi.

Dengan suara tersendat-sendat, wanita itu menceritakan,

"Mazlan...Allah itu Maha Besar, Maha Agung, Maha Kaya. Semasa koma itu, kakak telah diazab dengan siksaan yang benar-benar pedih atas segala dosa yang telah kakak buat selama ini.

"Betul kak?" tanya saya, terkejut.

"Betul Mazlan. Pada saat koma itu kakak telah ditunjukkan oleh Allah tentang balasan yang Allah beri kepada kakak. Balasan azab lan, bukan balasan syurga. Kakak merasakan seperti di azab di neraka.

"Kakak ini seumur hidup tak pernah pakai kerudung. Sebagai balasan, rambut kakak di tarik dengan bara api. Sakitnya tak bisa dijelaskan seperti apa pedihnya. Menjerit-jerit kakak minta ampun kepada Allah.

"Bukan itu saja, buah dada kakak juga diikat dan dijepit dengan penjepit yang dibuat dari bara api, kemudian ditarik ke sana-sini...lalu putus, jatuh ke dalam api neraka. Buah dada kakak hangus terbakar, panasnya bukan main. Kakak menjerit, menangis kesakitan. Kakak masukkan tangan ke dalam api itu dan kakak ambil buah dada itu kembali." Tanpa memperdulikan pasen lain dan jururawat, kakak tersebut terus bercerita.

Menurutnya lagi, beberapa hari dia disiksa tanpa henti, 24 jam sehari. Dia tidak diberi kesempatan untuk beristirahat atau dilepaskan daripada hukuman. Sepanjang masa koma itu dilaluinya dengan azab yang sangat pedih. Dengan suara tersendat-sendat, dengan air mata yang makin banyak bercucuran, wanita itu meneruskan ceritanya,

"Hari-hari kakak disiksa… rambut kakak ditarik dengan bara api, sakitnya terasa seperti mau tercabut kulit kepala. Sedemikian panas menyebabkan otak kakak terasa seperti mendidih. Azab itu cukup pedih...pedih yang sangat...tak bisa dijelaskan."

Sambil bercerita, wanita itu terus menangis. Terlihat sekali dia betul-betul menyesal dengan kesalahannya dahulu. Saya tertegun, kaget dan menggigil mendengar ceritanya. Begitu dahsyat balasan Allah kepada umatnya yang ingkar.

"Mazlan...Kakak ini agamanya saja Islam, tapi kakak minum arak, kakak main judi dan segala macam dosa besar. Karena kakak suka makan dan minum apa yang diharamkan Allah, semasa tidak sadarkan diri itu kakak telah diberi makan buah-buahan yang berduri tajam. Tak ada isi pada buah itu melainkan hanya duri-duri saja. Tapi kakak harus makan buah-buah itu sebab kakak betul-betul lapar. "Bila ditelan buah-buah itu, duri-durinya menusuk kerongkong kakak dan bila sampai ke perut, ia menusuk-nusuk perut kakak juga. Sedangkan jari yang tertusuk jarum pun terasa sakitnya, apalagi diberi duri-duri besar yang menusuk-nusuk kerongkongan dan perut kita. "Setelah selesai buah-buah itu kakak makan, kakak diberi makan bara-bara api. Bila kakak telan bara api itu ke dalam mulut maka seluruh badan kakak rasa seperti terbakar hangus.

Panasnya cuma Allah saja yang tahu. Api yang ada di dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan panasnya api disana. "Setelah selesai memakan habis bara api, kakak minta minuman, tapi...kakak diberi minuman yang dibuat dari nanah. Sangat bau busuk, tapi kakak terpaksa minum sebab kakak sangat haus. Semua terpaksa Kakak lalui...Sakitnya azab tak pernah Kakak rasakan dan alami sepanjang kakak hidup di dunia ini."

Saya terus mendengar cerita wanita itu dengan penuh perhatian. Terasa sungguh kebesaran Allah. "Masa diazab itu, kakak memohon ampunan kepada Allah supaya diberi nyawa sekali lagi, berilah kakak peluang untuk hidup sekali lagi. Tak berhenti-henti kakak memohon. Kakak berjanji bahwa kakak akan membuktikan bahwa kakak tak akan mengulangi lagi dosa-dosa dan kesalahan dahulu. Kakak berjanji tak akan ingkar perintah Allah akan jadi umat yg soleh. Kakak berjanji kalau kakak dihidupkan kembali, kakak akan perbaiki segala kekurangan dan kesalahan kakak dahulu, Kakak akan mengaji, akan sembahyang, akan puasa yang selama ini kakak tinggalkan."

Saya termenung mendengar cerita wanita itu. Allah itu Maha Agung dan Maha Kuasa. Kita manusia ini tak akan terlepas daripada balasannya. Kalau baik amalan kita maka baiklah balasan yang akan kita terima, kalau buruk amalan kita, maka azablah yang akan kita terima di akhirat kelak.

Alhamdulillah, wanita itu telah menyaksikan sendiri kebenaran Allah.

"Ini bukan mimpi Mazlan. Kalau mimpi, azabnya takkan terasa sepedih itu. Kakak bertaubat Mazlan, kakak tak akan ulangi lagi kesalahan kakak dahulu. Kakak bertaubat...kakak taubat nasuha,"katanya sambil menangis.

Sejak itu wanita tersebut benar-benar berubah. Pada saat saya membawanya ke Mekah, dia menjadi jemaah yang paling taat. Dia terus beribadah tak henti-henti. Kalau wanita itu pergi ke masjid pada waktu Maghrib, dia cuma akan balik ke kamar penginapannya selepas sembahyang Subuh.

"Kakak, kenapa kakak sembahyang terus-terusan? Kakak harus jaga juga kesehatan kakak. Lepas sembahyang Isya, kakak pulanglah, makan nasi, istirahat..." tegur saya.

"Tak apalah Mazlan. Kakak bawa buah kurma, kakak makan kalau kakak lapar."

Menurut wanita itu, sepanjang berada di dalam masjidil haram, dia meng-qada sembahyang yang ditinggalkannya dahulu. Selain itu dia berdoa, mohon kepada Allah supaya mengampuni dosa-dosanyanya.

Saya cemas melihat keadaan wanita itu, takut tiba-tiba dia akan jatuh sakit. Jadi saya menasihatinya supaya tidak mengabaikan kesehatannya.

"Tak bisa Mazlan. Kakak takut...kakak sudah merasakan pedihnya azab Allah. Mazlan tidak merasakan, Mazlan tidak akan tahu. Kalau Mazlan sudah merasai azab itu, maka Mazlan juga akan menjadi seperti kakak. Kakak betul- betul bertaubat."

Wanita itu juga berpesan kepada saya, katanya,

"Mazlan, kalau ada perempuan Islam yang tak memakai kerudung, Mazlan ingatkanlah mereka, pakailah kerudung. Cukup kakak saja yang merasakan siksaan itu, Kakak tak mau wanita lain jadi seperti kakak.

"Semasa diazab, kakak diperlihatkan ketentuan yang Allah beri ialah setiap sehelai rambut wanita Islam yang sengaja diperlihatkan kepada orang lelaki yang bukan muhrimnya, maka dia diberikan satu dosa. Kalau 10 orang lelaki bukan muhrim melihat sehelai rambut kakak ini, artinya kakak mendapat 10 dosa.”

"Tapi Mazlan, rambut kakak ini banyak jumlahnya, beribu-ribu. .. Kalau seorang melihat rambut kakak, ini artinya beribu-ribu dosa yang kakak dapat. Kalau 10 orang yang melihat, bagaimana? Kalau 100 orang lihat? Itu sehari, kalau hari-hari kita tak pakai kerudung seperti kakak ini? Ya…Allah...

"Kakak berniat, sepulang dari haji ini, kakak akan minta tolong ustaz supaya mengajarkan suami Kakak sembahyang, puasa, mengaji, beramal. Akan Kakak ajak suami pergi haji. Seperti halnya kakak, suami kakak itu Islam, cuma nama saja. Tapi itu semua kesalahan kakak. Kakak sudah bawa dia masuk Islam, tapi kakak tak membimbing dia. Bukan itu saja, kakak pula yang jadi seperti orang bukan Islam."

Sejak kepulangan dari ibadah haji itu, saya tak pernah lagi mendengar cerita tentang wanita tersebut. Bagaimanapun, saya percaya dia sudah menjadi wanita yang benar-benar solehah. Adakah dia berbohong kepada saya tentang ceritanya diazab semasa koma?

Tidak. Saya percaya dia berkata benar. Jika dia berbohong, kenapa dia berubah drastis dan bertaubat nasuha? Satu hal lagi, coba kita bandingkan azab yang diterimanya itu dengan azab yang digambarkan oleh Allah dan nabi dalam Al-Quran dan Hadis. Adakah ia bertentangan?

Memang benar, apa yang terjadi itu memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tapi bukankah soal dosa, pahala, syurga dan neraka itu perkara yang ghaib? Janganlah kita termasuk orang-orang yang menyesal setelah meninggal dunia, bila kita sudah diazab barulah kita percaya, itu semua sudah terlambat.

 

Diambil dari salah satu milis.

 

Read 2628 times Last modified on Saturday, 04 May 2013 03:35

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.