Kisah Inpsiratif

Ketua Rombongan Haji, Syarikat Gemilang, menghubungi saya. Ketika itu, Haji Ayub dan jemaah rombongannya baru tiba di Lapangan Terbang Jeddah.

“Ustaz. standby yah, ada seorang jemaah wanita yang bertingkah aneh. Ingatannya seperti tidak sempurna,” kata Haji Ayub kepada saya yang saat itu sedang di Madinah. Saya yang sudah beberapa hari di Madinah kemudian bersiap-siap menyambut kedatangannya. Tiga jam kemudian, rombongan tadi tiba di Madinah dan ditempatkan di Hotel Wasin. Saya terus bergegas ke sana. Setibanya disana, saya dikasih tahu ada seorang jemaah wanita menghadapi masalah. Saya juga diberitahu, ketika di Lapangan Terbang Kuala Lumpur (KLIA), jemaah wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.

Pada tahun 1990, hati saya terpanggil untuk melakukan ibadah haji ke Mekah. Waktu itu saya bekerja sebagai seorang anggota kepolisian berpangkat inspektur di Kluang, Johor. Saya bertugas sebagai anggota kepolisian sejak tahun 1982. Kebetulan ibu saya dapat uang hasil menjual tanah warisannya. Lalu uang itu dibagikan kepada kami anak-anaknya. Saya kebagian empat ribu ringgit waktu itu. Pesan Ibu kepada saya agar uang itu digunakan untuk berangkat haji ke Mekah.

Peristiwa ini saya alami sekitar tiga tahun yang lalu. Hanya satu bulan setelah anak saya yang kedua lahir, saya menganggur perusahaan memberhentikan semua karyawannya (termasuk saya) begitu saja, tanpa memberikan pesangon sepeserpun. Kehilangan pekerjaan, tidak punya tabungan sama sekali, dan dengan orang anak yang masih kecil, sesaat kehidupan kadang kala seperti ingin berhenti.

Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survei untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Abu Muslim Al-Turki, berasal dari Inggris. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 51 tahun. Kisah dari orang pertama.

Abu Muslim adalah seorang muslim keturunan Turki yang dibesarkan di Inggris. Sebelumnya ia menjalani hidupnya bagaikan seorang kafir. Ia menikahi seorang wanita non muslim, begitu pula ia tidak mengerjakan shalat dan menjalankan ibadah lainnya, sampai suatu hari Allah SWT memberikan petunjukNya untuk kembali ke jalan yang benar.

Abu Muaz Al-Kuwaiti

Abu Muaz Al-Kuwaiti (Adil Al-Ghanim), berasal dari Kuwait. Komandan Mujahidin Asing. Syahid dalam operasi Miracle pada tanggal 21 Juli 1995, sebuah operasi militer yang dilakukan untuk merebut kembali wilayah Muslim yang dirampas tentara Serbia. Berumur akhir dua puluh. Kisah dari orang pertama.

Dua kisah yang akan saya ceritakan ini agak aneh. Kisah pertama mengenai seorang jemaah bernama Mansor berusia 30-an yang sebaya dengan saya. Mansor bekerja di Brunei dan bergaji besar. Ini terjadi ketika saya menjadi mutawif membawa jemaah umrah ke Tanah Suci pada tahun 1992.  Ketika itu, saya bertugas di sebuah agensi haji & umrah di Brunei. Waktu ibadah umrah pada bulan Desember dalam keadaan tidak terlalu panas dan kami berada di Tanah Suci selama sembilan hari.

Inilah sebuah kisah sukses yang menawan hati. tentang diri seorang penjual orem-orem. Makanan khas kota malang yang bertempat di pinggiran jalan. Kisah ini sangat menarik. Apalagi saya mendengar sendiri cerita itu. Beberapa kali saya pergi ke warung tersebut, untuk mendengarkan cerita demi cerita, sebagai kelanjutannya. Sehingga, akhirnya, saya memutuskan untuk menulisnya dalam diskusi ini.

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak, mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Saya dibesarkan oleh Ibu dengan penuh perhatian. Ibulah yang memandikan saya dan adik-adik hingga saya mampu untuk mandi sendiri. Saya dan adik-adik hanya berbaris di depan sumur lalu Ibu menguyur tubuh kami dengan ember yang berisi air yang ditimba dari dalam sumur. Ibulah yang membuatkan seragam sekolah hingga menyuapi sarapan pagi. Saya hanya tinggal buka mulut, suapan tangan Ibu pun masuk ke mulut saya. Lalu Ibu akan mengantar kami ke sekolah. Setelah itu Ibu kembali ke rumah untuk mengurus Bapak.