Kisah Dari Panti Asuhan

Sore itu kami sholat maghrib di panti asuhan, setelah siangnya mengisi acara pada milad panti asuhan ini. Bulan lalu pengurus panti datang ke rumah untuk mengundang kami sebagai pengisi acara. Selepas sholat kami berbincang-bincang dengan pengurus panti dan beberapa anak yang tinggal disana. Sambil menunggu rekan-rekan yang lain, aku sempatkan ngobrol dan bertanya-tanya dengan pengurus panti. Ada berapa orang yang tinggal disini, dari umur berapa saja, dari mana saja asalnya, dan pertanyaan standar lainnya.

Lelaki Yang Gelisah

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Ya Razzaq

Setelah melahirkan saya memutuskan tidak bekerja. Kondisi di rumah tidak memungkinkan untuk memiliki pengasuh. Lagipula saya sangat ingin merawat sendiri putri kami bernama Sariyya yang sekarang sudah berusia 3 tahun. Saya tidak mau kehilangan momen berharga perkembangan Sariyya yang tidak bisa diulang. Saya juga ingat pesan almarhumah ibu saya agar saya merawat sendiri anak-anak saya.

Doa Dari Keranjang Tempe

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, tempat tinggal seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan sebagai menyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.

Arjuna Dan Bidadari

Namanya Arjuna, persis nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan. Tapi ia tak tampan, tak gagah. Apalagi digila-gilai oleh wanita. Arjuna yang ini hanya seorang penjual ulat sebagai pakan burung yang penghasilannya tidak menentu.

Akhir Yang Berlawanan

Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri : “Alangkah sabarnya mereka, setiap hari begitu, benar-benar mengherankan. Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang-orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.

Adikku Anissa

Saya ingin bercerita mengenai kisah adik saya, Nur Annisa, seorang gadis yang baru menginjak dewasa tetapi agak kasar dan suka berkelakuan seperti lelaki. Ketika usianya 17 tahun, perkembangan tingkah lakunya benar-benar membingungkan ibu. Dia sering membawa teman-teman lelakinya pulang ke rumah. Situasi ini menyebabkan ibu tidak senang, lagipula ibu merupakan guru Al_Quran. Untuk menghindarkan dari pergaulan yang terlalu bebas, ibu telah meminta adikku memakai kerudung. Permintaan ibu itu ditolaknya sehingga seringkali terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil antara mereka.

Pernah pada suatu saat, adik berkata dengan suara yang agak keras,

“Coba mama lihat, tetangga-tetangga kita pun ada yang anaknya pakai jilbab, tapi perangainya sama seperti orang yang tak pakai jilbab. Sampai kawan-kawan Ani dekat sekolah, yang pakai jilbab pun selalu pergi dengan om-om, pegang-pegang tangan. Ani nih…walaupun tak pakai jilbab, tak pernah berbuat kayak gituan!”