Kisah Penjual Gado-Gado

Sudah hampir setahun lamanya saya tidak pulang ke Jakarta. Selama belajar di Malaysia, biasanya saya kembali ke Jakarta setiap empat bulan sekali. Tapi sejak bulan November 2006 lalu, saya tidak pernah pulang sampai sepuluh hari menjelang Iedul Fitri bulan Oktober 2007 lalu. Maklum, dalam setahun terakhir ini saya mengajak istri ikut ke Kuala Lumpur.

Kisah dari Stasiun Jatinegara

Kereta Api Bima yang saya tumpangi dari Madiun perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu. Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta. Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri, karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.

Matematika Sederhana

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Cara Allah Memberi Rejeki

Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

3-0 Untuk Anak Itu

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Kami Bukan Pengemis

Kamis minggu lalu, Sore itu tepatnya di bilangan Uki, waktu telah menunjukan senja kala, matahari telah terbenam, dan sang bulan mulai perlahan menampakan wajahnya yang cantik. Saya kala itu baru turun dari bus Jemputan yang mengantar saya dari kantor di bilangan cikarang, biasa saya terlelap dalam bus tersebut untuk mempersiapkan energi untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Belajar dari Seorang Ibu Tua

Sabtu lalu saya sekeluarga bergegas berangkat ke masjid Al-Falah, sebuah masjid yang didirikan oleh orang-orang Indonesia di Berlin. Khawatir acara pengajian yang biasa diadakan tiap penghujung bulan itu sudah dimulai, kami berlari-lari kecil sambil diiringi tawa riang anak-anak mengejar bis yang hampir saja meninggalkan kami.

Mau Punya Rumah ? Ternyata Gampang

Mungkin semua orang ingin memiliki tempat tinggal yang layak sebagai markas bagi keluarga, sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan, pusat pendidikan anak dan masih banyak fungsi-fungsi yang lain. Saya juga memiliki keinginan yang sama dengan orang lain, sejak awal-awal menikah sudah memiliki cita-cita untuk memiliki rumah sendiri, mungkin walau cukup sederhana.